TAHLIL ( Bagian Kedua )

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Pada Bagian Kedua ini, saya akan melanjutkan sebagai berikut : Tidak diragukan lagi, kalimat tauhid yang bersumber dari lubuk hati dan diucapkan dengan lisan merupakan pengesaan yang sejati. Ia adalah ungkapan hakiki dari ayat, ( Artinya ) : Katakanlah : ” Dia Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada – Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. ” ( QS : Al-Ikhlas : 1-4 )
Kalimat tauhid juga merupakan bentuk nyata dari pengakuan, ” Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan “. ( QS : Al – Fatihah : 5 ).
Kalimat tersebut menghancurkan
nilai sakral patung dan berhala sekaligus membersihkan manusia dari semua bentuk syirik. Atas dasar itulah, kalimat ini menjadi pilar utama dari dzikir sufistik.
Ada tiga pilar dzikir sufistik, yaitu :
1. Istighfar
2. Tauhid ( Laa ilaaha
illalllah )
3. Shalawat.
Kalimat, ” Laa ilaaha illalllah ” merupakan satu dari tiga pilar dzikir sufi. Tanpa kalimat itu, jalan yang diretas seseorang untuk menuju Allah tidak akan berguna. Apapun bentuknya.
Pembahasan ini kita tutup dengan Hadist Bukhari yang diriwayatkan Abu Hurairah ra :” Wahai Rasulullah SAW siapakah yang paling sejahtera dengan syafaatmu dihari Kiamat? ” tanya Abu Hurairah. ” Abu Hurairah , kukira tak seorangpun yang menanyakan Hadist ini sebelum dirimu, berdasarkan
pengamatanku atas kegigihanmu terhadap Hadist Orang paling sejahtera dengan syafaatku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan, ” Laa ilaaha illalllah ,” dengan hati yang tulus.
Kemudian juga Hadist Al-Hakim : ” Sebaik-baik dzikir adalah : ” Laa ilaaha illalllah “. Sedangkan sebaik-baik doa adalah, ‘Alhamdulillah’ .”
Dan juga perkataan Al Ghazali : ” Kita berdoa semoga Allah menjadikan orang yang menutup usia dengan kalimat,” Laa ilaaha illalllah “. Mampu mengucapkannya lahir batin. Sehingga kita meninggal dunia tanpa rasa cinta padanya ( kepada dunia ), sebaliknya malah menghindar darinya ( dari kemewahan dunia ) karena besarnya keinginan berjumpa dengan Allah. Sesungguhnya Allah sangat senang bertemu dengan orang yang mencintai-Nya. ”
Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas Bagian Kedua. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan judul baru tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : TERAPI DENGAN ZIKIR. Oleh : Dr. Abdul Halim Mahmud *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan : Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website :Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.