TAFAKKUR DAN MENGAMBIL PELAJARAN

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Semoga keadaan Neraka yang telah disebutkan, baik dalam ayat maupun Hadist yang sudah saya sampaikan lewat tulisan saya terdahulu hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita ( sidang pembaca ) sehingga kita dapat mengambil pelajaran darinya.
Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, ( Artinya ) : ” Sesungguhnya pada yang sedemikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. ” ( QS : Qaaf : 37 ) .
Tidak diragukan lagi bahwa keadaan itu benar adanya karena ditegaskan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan Al-Qur’an itu hak, dan Hadist juga hak. Tinggal kita yang mesti membacanya , mengulang – ulanginya, dan merenungkannya, adakah kita telah melakukan suatu dosa dan kesalahan, jika demikian, maka kita mesti segera bertobat dan kembali kepada Allah SWT, dengan syarat kita beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta meyakini bahwa Neraka Jahanam itu benar adanya.
Seorang mukmin harus selalu mengoreksi dirinya, mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, dan memohon perlindungan dari siksa Neraka. Tidak mungkin bagi orang meyakini adanya Neraka dengan segala siksaannya, kemudian dia menyia-nyiakan hidupnya untuk mencari kesenangan dunia yang fana ini. Rasulullah SAW telah bersabda, ( Artinya ) : ” Syurga itu diliputi dengan hal-hal yang dibenci, sedangkan Neraka itu diliputi dengan hal-hal yang menyenangkan.” ( HR : Bukhari dan Muslim ).
Memang, setiap amal yang membawa ke Syurga selalu berat dirasakan oleh nafsu, sedangkan amal yang disenangi oleh nafsu ujung-ujungnya akan sampai ke Neraka dengan segala adzab didalamnya. Sungguh mengherankan dan sungguh sayang orang yang tidak peduli terhadap amal perbuatannya. Ia hanya mengejar kesenangan dunia dan samasekali tidak menghiraukan keadaan Neraka dan kalajengking, ular, kelabang, dan berbagai siksa disana. Apa gunanya mengejar pangkat dan mengumpulkan harta benda jika pada akhirnya sengsara di akhirat. Bagaimana mungkin berani meninggalkan puasa, orang yang mengetahui kelaparan di Neraka? Bagaimana mungkin menyia-nyiakan shalat untuk tidur bagi orang yang meyakini adanya penderitaan di Neraka? Bagaimana mungkin orang akan berani durhaka jika ia telah mengetahui adanya sengatan kalajengking dan patukan ular di Neraka? Barangsiapa melihat Jubbul Huzn ( lubang derita ), ia tidak akan menyembah Allah SWT dengan riya’. Barangsiapa mengetahui akibat ( siksa ) menggambar dan memahat, ia tidak akan berani melakukannya. Barangsiapa mengetahui bahwa peminum arak didunia akan diberi minuman berupa nanah di akhirat kelak ( Neraka ), maka ia tidak
akan berani lagi mendekati minuman keras.
Sesungguhnya mengingat Syurga dan Neraka itu telah dimiliki setiap orang mukmin, hanya saja belum sampai pada tingkat yakin.
Jika tidak demikian, sesungguhnya tidak mungkin bagi seorang mukmin akan berani melakukan suatu dosa, baik itu dosa kecil, apalagi dosa besar. Ali bin Abu Thalib ra berkata : ” Sesungguhnya terbukanya tabir itu tidak akan menambah keyakinanku.” Artinya, tingkat keyakinannya telah maksimal, seolah-olah ia melihat syurga dan Neraka itu dengan mata kepalanya. Sehingga baginya tidak ada perbedaan antara iman dengan yang gaib maupun dengan yang tampak. Dan orang yang telah mengintip keadaan Neraka tidak akan melakukan sembarang dosa, bahkan tidak bisa bergembira dan tidak bisa tertawa.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau berkata kepada Jibril : ” Mengapa saya tidak pernah melihat Mikail tertawa? ” . Jibril menjawab : ” Bahkan ia tidak pernah tertawa sejak diciptakan Neraka. ” ( HR : Ahmad ).
Juga dari Anas ra, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, ( Artinya ) : ” Demi Dzat yang jiwaku ada ditangannya, kalau saja kamu melihat seperti yang aku lihat, tentu kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis. ” Mereka bertanya : ” Wahai Rasulullah , apakah yang engkau lihat itu? ” Beliau bersabda : ” Aku melihat Syurga dan Neraka. ” ( HR : Muslim ) .
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, ia berkata, ” Ketika Nabi SAW keluar untuk shalat, beliau melihat orang-orang seperti bercanda ria. Maka beliau bersabda : ” Ingat! Seandainya kamu banyak mengingat penghancur kelezatan, tentu kamu tidak akan seperti yang aku lihat ini. Penghancur kelezatan itu adalah maut. ” ( HR : Turmidzi ) .
Ringkasnya, orang yang pandai adalah orang yang selalu berusaha memperbaiki kehidupan akhiratnya. Ia tidak mau menjadikan dirinya terlempar kedalam Neraka, hanya karena harta yang dapat binasa, atau karena kemuliaan yang semu, atau karena kekuasaan yang dapat hilang, semua itu sesungguhnya tidak ada gunanya. Allah SWT berfirman, ( Artinya ) : ” Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali – kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. ( Allah SWT berfirman ) : ” Peganglah ia lalu belenggulah tangannya kelehernya. ” ( QS : Al-Haaqqah : 27-30 ) .
Tidak akan lelah mencari kenikmatan seperti syurga atau lalai dari penderitaan dan kesengsaraan kecuali orang yang tidak berakal . Nabi SAW selalu mendorong umatnya untuk mencari Syurga dan lari dari Neraka dengan sekuat tenaga, semaksimal mungkin.
Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas Bagian Kedua. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan judul baru tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : RAHASIA SETELAH KEMATIAN. Oleh : Maulana Muhammad Islam *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan aku :Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website :Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.