SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN, PENGERTIAN AL-QUR’AN SERTA AL-QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

Saudaraku, sidang pembaca yang budiman, Alhamdulillah, jumpa lagi kita bukan? Kali ini dakwah saya (lewat tulisan) sesuai judul tersebut diatas semoga menjadi penawar dan menyejukkan hati sidang pembaca. Kita yang cinta kepada bacaan bernafaskan Islam tentu telah kenal atau paling tidak sudah pernah membaca nama seorang sastrawan Arab (terkenal) yang sukar dicari tandingannya bernama : Abul Walid bukan? Tahukan antum, bahwa sastrawan handal tanpa tandingan itu pernah tidak berdaya menghadapi Al-Qur’an? Ingin dengar kisahnya? Begini : Di zaman Rasulullah saat itu beberapa pemimpin Quraisy telah berkumpul untuk merundingkan bagaimana cara-cara menundukkan Nabi Muhammad SAW. Akhirnya mereka (kaum Quraisy) sepakat mengutus Abul Walid untuk mengajukan tawaran kepada Rasulullah SAW agar mau berhenti berdakwah dan sebagai gantinya beliau (Nabi Muhammad SAW) akan diberi harta, pangkat, jabatan tinggi dan lain sebagainya. Setelah Rasulullah mendengar ucapan-ucapan Abul Walid maka Rasulllah pun membacakan surat Fushshilat atau disebut juga surat Hamim Sajadah dari awal sampai akhir, yaitu dari ayat pertama sampai ayat lima puluh empat. Abul Walid amat tertarik dan terpesona mendengarkan ayat-ayat itu di bacakan, sehingga ia (Abul Walid) termanggu termenung-menung memikirkan keindahan gaya bahasanya, kemudian langsung kembali kepada kaumnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rasulullah. Kaumnya yang telah lama menunggunya dengan gelisah dan tiada sabar lagi, begitu melihat perubahan yang nyata pada mukanya, mereka segera bertanya :

            ”Apa yang kamu bawa dan mengapa engkau bermuram durja ?”
”Aku belum pernah mendengar kata-kata seindah itu. Itu bukan syair, bukan sihir dan bukan pula mantera tukang tenung.” jawab Abul Walid. Dan seterusnya katanya : ”Sesungguhnya Al-Qur’an itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam kedalam tanah, susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Itu bukanlah kata-kata manusia, ia begitu agung, begitu tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi darinya.” demikian Abul Walid mengakhiri kata-katanya. Mendengar jawaban ini, mereka (para pemimpin Quraisy) menuduh Abul Walid telah berkhianat terhadap agama nenek moyangnya dan cenderung kepada agama baru yang di bawa Muhammad.
           
            Sidang pembaca, demikian sepenggal kisah ketidak berdayaan Abul Walid sang sastrawan Arab terkenal menghadapi Al-Qur’an. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai keistimewaan kitab suci Al-Qur’an serta bagaimana mengetahui sejarah turunnya, mengimaninya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kita simak baik-baik pembahasan kita lewat dakwah melalui tulisan ini.
            Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Negeri Arab sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, terkenal dengan sebutan Jahiliyah. Sebutan ini diberikan karena masyarakat Arab waktu itu memiliki perilaku yang telah melampaui batas. Berzina, berjudi, merampok, mabuk-mabukan, membunuh anak – anak perempuan, menyembah berhala, dan sebagainya merupakan pemandangan sehari-hari. Melihat perilaku masyarakat yang telah rusak tersebut, pada saat itu Nabi Muhammad SAW berumur 40 tahun, beliau pun banyak melakukan perenungan. Beliau sering mengasingkan diri di Goa Hira untuk menghindari hiruk pikuknya kota mekkah ketika itu.
            Setelah melakukan khalwat beberapa lama di Goa Hira, pada malam 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M, datanglah Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dan menyuruhnya untuk membaca tulisan yang dibawa Jibril. Dengan agak terkejut beliau menjawab : ”Aku tidak dapat membaca.” Jawaban tersebut dikemukakan Nabi berulang-ulang, hingga akhirnya Jibril membimbing beliau sampai mampu membaca.
  • Adapun ayat yang dibawa Malaikat pada saat itu adalah :
”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5)
Peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW pada tanggal 17 Ramadhan itulah yang menandai turunnya wahyu pertama sehingga diperingati oleh umat Islam diseluruh dunia sebagai malam Nuzulul Qur’an (malam dirunkannya Al-Qur’an). Selain itu, kejadian tersebut juga merupakan titik awal diangkatnya Muhammad sebagai Rasul Allah SWT.
            Saudaraku, sidang pembaca.
·         Al-Qur’an dirunkan sebagai petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendapat yang paling populer mengatakan bahwa secara kseluruhan Al-Qur’an terdiri atas 30 Juz, 114 surat, 554 ruku’ dan 6.666 ayat diawali dengan Al-Fatihah dan di akhiri dengan surat An-Nas. Para ulama berselisih pendapat tentang lamanya masa Al-Qur’an diturunkan. Ada yang berpendapat Al-Qur’an diturunkan selama 20 tahun, 23 tahun bahkan 25 tahun. Hal ini disebabkan mereka berselisih pendapat tentang lamanya Nabi bermukim di Mekah setelah diangkat menjadi Rasul. Pendapat yang terkuat, mengatakan Al-Qur’an diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi SAW hingga 9 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah (633 M).


·         Adapun masa turunnya Al-Qur’an dapat dibagi menjadi dua sebagai berikut :
a.        Ketika Nabi Muhammad SAW berada di Mekah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari. Surat-surat yang turun disebut surat-surat Makkiyah, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.    Umumnya suratnya pendek-pendek
2.    Berisi tentang ajaran tauhid (keimanan) tentang syurga dan neraka
3.    Ayatnya dimulai dengan lafdz : Ya ayuhannas artinya, wahai manusia.
b.        Ketika Nabi berada di Madinah setelah melakukan hijrah, selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Surat-surat yang turun disana disebut surat-surat Madaniyah, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.    Umumnya suratnya panjang-panjang
2.    Berisi tentang hukum dan mu’amalat
3.    Ayatnya dimulai dengan lafadz : ya ayyuhalladzina amanu artinya, wahai orang-orang yang beriman.
Masa turunnya wahyu dinyatakan berakhir setelah Nabi menerima wahyu terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3 yang diturunkan saat Nabi berada di padang Arafah guna melaksanakan haji wada’ (haji perpisahan) pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H. (633 M).
·         Seperti berikut :
”…… Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan nikmatKu, serta Ku ridho’i Islam sebagai agamamu….” (QS. Al-Maidah : 3)
Surat Al-Maidah, ayat ketiga ini secara jelas menunjukkan jaminan Allah bahwa Islam telah di nyatakan sempurna, isinya merangkum semua persolan hidup manusia, sehingga orang yang berpegang kepada Islam, akan memperoleh nikmat yang sempurna pula dan Allah juga telah meridho’i Islam sebagai agama umat manusia.
            Saudaraku, sidang pembaca.
·         Adapun pengertian Al-Qur’an menurut bahasa (lughat) : Al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a, yaitu bentuk masdar yang artinya bacaan. Al-Qur’an dengan makna tersebut diantaranya terdapat dalam ayat  berikut :
”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah : 17-18)
            Sedangkan pengertian Al-Qur’an menurut istilah adalah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang dirunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Jibril dan membacanya merupakan ibadah. Dari pengertian diatas, kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Taurat, Zabur dan Injil. Selain itu perlu diketahui tidak semua firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di sebut Al-Qur’an. Ada yang disebut Hadist Qudsi.
·               Beda antara hadist Qudsi dengan Al-Qur’an sebagai berikut :
a.    Isi dan redaksi ayat-ayat Al-Qur’an langsung dari Allah SWT, sedangkan hadist Qudsi isinya dari Allah tetapi redaksi kalimatnya dari Nabi Muhammad SAW.
b.    Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, sedangkan hadist Qudsi tidak merupakan ibadah.
Al-Qur’an mempunyai banyak nama, menurut pendapat sebagian ulama, Al-Qur’an itu mempunyai lebih dari 90 nama. Tetapi nama lain Al-Qur’an yang paling terkenal ada 4 saja seperti berikut :
1.        Al-Kitab atau Kitabullah, merupakan kesamaan dari kata Al-Qur’an yang artinya bacaan. Dalam Al-Qur’an nama Al-Kitab antara lain terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat kedua.
·   Sesuai Firman-Nya :
”Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 2)
2.        Al-Furqan, artinya Pembeda yaitu yang membedakan antara yang benar (hak) dan yang salah (bathil).
·         Seperti yang terdapat dalam Firman-Nya :
”Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Furqon : 1)
3.        Al-Huda yang berarti petunjuk.
·         Seperti Firman-Nya :
”Dan sesungguhnya tatkala kami mendengarkan petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadaNya…….” (QS. Al-Jin : 13)


4.        Adz Dzikir yang berarti peringatan.
·         Seperti Firman Allah SWT :
”Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz Dzikir (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya (menjaganya). (QS. Al-Hijr : 9)
Dan nama-nama itu menunjukkan akan kemuliaan dan kelebihan Al-Qur’an. Dan surat Al-Hijr ayat kesembilah itu bukti janji Allah SWT bahwa Al-Qur’an dari semenjak diturunkan hingga akhir zaman akan terpelihara keaslian serta kemurniannya.
            Saudaraku, sesama muslim.
Akhir materi kita dalam tulisan ini adalah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Sebagai manusia, kita diciptakan oleh Allah SWT ke muka bumi ini bukanlah hanya untuk bersenang-senang, makan enak, jalan-jalan, bersenda gurau, tertawa, menangis dan sebagainya. Tetapi Allah SWT menciptakan manusia dengan tugas pokok yaitu untuk menyembah kepada-Nya dan untuk menjadi khalifah di bumi.
·         Sesuai Firman Allah SWT :
”Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
·         Dan Firman Nya :
”Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…… ” (QS. Al-Baqarah : 30)
            Agar manusia sukses menjalankan tugas – tugas pokok (utamanya) itu diperlakukan suatu pedoman atau petunjuk sehingga ia dapat tetap berada pada jalan yang benar dan tidak tersesat. Oleh karena itu, dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Allah SWT menurunkan petunjuk berupa kitab suci. Bagi kita umat Nabi Muhammad SAW telah di beri pedoman berupa Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi ketentuan – ketentuan tentang segala sesuatu yang bertujuan mengantarkan manusia selamat di dunia dan akhirat. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
·         Sesuai Firman Nya :
”Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka pahala yang besar.” (QS. Al-Isra : 9)
·         Dan Firman Nya :
”Alif laam miim, Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah di turunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah di turunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.” (QS. Al-Baqarah 1-5)
Dari Ayat 1-5 surat Al-Baqarah di atas dapat disimpulkan bahwa hanya orang-orang yang bertakwalah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Siapa orang-orang yang bertakwa itu? Yaitu mereka yang percaya kepada yang gaib dan wahyu yang diturunkan Allah, menegakkan shalat dan membayar zakat. Itulah orang yang bertakwa menurut ayat tersebut diatas. Selanjutnya Allah SWT juga menegaskan, orang-orang dengan ciri-ciri takwa itulah yang selalu berada dalam hidayah dan akan selalu memperoleh keuntungan. Oleh kaerna itu bila kita ingin sukses dalam hidup ini, tidak ada cara lain kecuali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aktivitas (perbuatan) kita.
            Saudaraku, sidang pembaca. Sampai disini dulu dakwah saya (lewat tulisan) kali ini. Insya Allah jumpa lagi kita pada tulisan saya yang lain di kesempatan yang lain. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
? ? ?
* (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku Oleh: Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Kalijaga Jogyakarta)*

 

This entry was posted in Alquran. Bookmark the permalink.