PERBEDAAN WAHYU DENGAN ILHAM SERTA MAKSUD DITURUNKANNYA AL-QUR’AN

Saudaraku sesama muslim,

Ada syair bahasa jawa, begini :
Mumpung siro sih Longgar
Ibadah….. o kanti sabar
Ngeli Ngono Yenwis Repot
Ibadah rasane Abot
Mumpung siro isih Waras
Ibadah …. o kanti Ikhlas
Ngeli ngono Yenwis Loro
Ora bisa opo-opo
        Saudaraku, kira-kira terjemah bebasnya begini
Mumpung masih ada waktu terluang, mumpung kita belum disibuki macam-macam kesibukan dunia, sebab kalau kita sudah berada di alam akhirat (kubur) kita sudah tidak akan bisa lagi melakukan perbuatan amal ibadah. Nah mumpung kita masih hidup (di alam dunia) dan masih ada kesempatan, lakukan ibadah, Shalat, Ngaji, Puasa (di bulan Ramadhan), bayar Zakat, pergi Haji (jika mampu), mumpung kita lagi sehat, sebelum kita dikasih sakit, ibadah jangan dilupakan, banyak-banyak dzikir, shadaqoh serta lakukan dengan ikhlas karena Allah semata, Silaturahim (silaturrahmi) jangan di putuskan dan seterusnya dan seterusnya….
             Saudaraku, Sidang pembaca yang budiman, Guru saya ( Bapak KH Musa Wahid ) bilang, lakukan perbuatan amal shaleh (tanpa ragu) apa yang bisa kita lakukan, yang punya banyak uang beramal dengan hartanya, shodaqoh jariyah untuk masjid, panti asuhan (Orang tua jompo, yatim piatu) dan yang bisa menulis (mengarang) lakukan perbuatan amal shaleh dengan tulisan (artikel) religius untuk syiar dakwah Islam, dan lain-lain lagi, dan lain-lain lagi.
            Saudaraku, saya (alhamdulillah) bisa menulis dan sebagai pengarang, keinginan saya adalah menulis, (menyampaikan) menyebarluaskan Nilai-nilai Islam di muka bumi ini, hingga seluruh insan, hingga setiap pribadi, hingga setiap individu-individu manusia hanya mengabdi (menyembah) Al-Khalik, Sang maha Pencipta yang Maha Dzat, Yaitu Allah SWT,  dan menyadari akan ke keliruan penghambaan diri kepada selain kepada-Nya.
Sidang pembaca, kali ini tulisan saya, berjudul tersebut di atas adalah bentuk perwujudan perbuatan amal baik (shaleh) yang saya lakukan, yaitu tulisan sebagai sarana syiar dakwah islam.
            Saudaraku, mengenai hakikat wahyu tidaklah mungkin dapat diketahui manusia biasa, kecuali oleh Nabi (Rasul) yang menerima wahyu itu sendiri. Pengertian wahyu telah banyak dikemukakan oleh para ahli (alim ulama), antara lain adalah :
* Wahyu adalah suatu pengetahuan yang diperoleh Nabi (Rasul) dengan cara yang samar serta menyakinkan bahwa apa yang mereka terima benar-benar datangnya dari Allah SWT, baik dengan perantaraan ataupun tidak  *
 ·        Pemberitahuan tersebut terdapat dalam Firman Allah SWT :
 “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan Wahyu atau di belakang tabit atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura : 51)
* Sementara ilham ialah suatu perasaan halus yang diyakini oleh jiwa dan terdoronglah keinginan untuk mematuhi kehendak ilham itu tanpa merasakan dari arah mana datangnya. Termasuk pengertian ilham peristiwa mimpi yang dialami Nabi Ibrahim AS. untuk mengorbankan putranya ( Ismail ). *
·        Firman Allah SWT di dalam kitab suci Al-Qur’an :
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu. Ia menjawab : Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Shaffat : 102).
 Allah SWT menurunkan Al-Qur’an ke dalam dunia ini dengan maksud dan tujuan yang mulia, sebagai petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia. Petunjuk Al-Qur’an mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut kepada setiap pribadi muslim dituntut untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara konsekwen dalam kehidupan sehari-hari.
·        Para Ulama telah mengemukakan maksud diturunkannya Al-Qur’an, antara lain di kemukakan :
1.      Al-Qur’an sebagai Mu’jizat atas kebenaran Rasul dalam mengemban risalah dan menyampaikan apa-apa yang diterima dari Allah SWT.
2.      Agar Al-Qur’an sebagai Sumber Petunjuk dan sebagai Sumber Syariat dan hukum-hukum yang harus di ikuti dan dijadikan pedoman dalam kehidupan manusia.
·        Hal ini sesuai dengan Firman-Nya :
  “(Dan ingatlah) akan hari ketika Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat saksi atas mereka dari mereka sendiri. Dan Kami datangkan kamu ( Muhammad ) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan kami turunkan Al-Kitab ( Al-Qur’an ) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri ( kepada Allah ).” ( QS. An-Nahl : 89 )
            Kesempurnaan dan kelengkapan isi Al-Qur’an menunjukkan bahwa ia bersifat dinamis, sesuai pada setiap waktu dan tempat, setiap masa dan zaman. Kalimat demi kalimat, ayat demi ayat tidak mungkin dapat diuraikan, ditafsirkan atau di interprestasikan secara mutlak dan final. Al-Qur’an membuka tabir, sekaligus memberi petunjuk dan penjelasan kepada manusia untuk memperoleh kebahagiaan baik kehidupan di dunia maupun akhirat. Dengan demikian Al-Qur’an bukanlah sekedar untuk disimpan di tempat tertentu, tetapi adalah untuk dibaca, dipelajari, direnungkan segala isi dan kandungannya serta diperaktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
·        Berfirman Allah SWT :
 “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (Jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada oran-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.“ (QS. Al-Israa : 9).
 (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Lintasan Sejarah Al-Qur’an oleh : Achmad Syauki dan dari Catatan Taklim penulis.)

 

This entry was posted in Alquran. Bookmark the permalink.