“JANGAN DITANYA SAKITNYA SAKARATUL MAUT YANG LANGSUNG MENGHUJAM RUH ITU SENDIRI MENEROBOS ORGAN-ORGAN TUBUH.”

Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirromaanirrohim. Allahumma shalli wassalim sayyidina Muhammad. Sidang pembaca selamat berjumpa kembali dengan al-fakir (lewat tulisan). Apa khabar? Sesuai judul artikel (religius) diatas, semoga bermanfaat dan mendapat tempat disetiap relung hati sidang pembaca. Menyejukkan, menambah wawasan, sehingga bertambah mantap iman didada, menjadi mudah beribadah serta tangkaslah kita menjalankan perintah-perintahNya dan tangkaslah kita menjauhkan sejauh-jauhnya segala larangan-laranganNya.

       Saudaraku, hari demi hari bulanpun berganti tahun dan tengoklah berpuluh tahun yang lalu, waktu itu kita masih berada dalam rahim ibunda. Kemudian terlahir menjadi bayi mungil yang menggemaskan lalu tumbuh menjadi balita yang lucu, dilanjutkan dengan menjadi anak-anak kemudian remaja dan jadilah seperti sekarang yaitu menjadi dewasa. Kemudian menjadi orangtua dari anak-anak kita atau bahkan kita sudah mempunyai cucu. Menjadi sunnatullah, sebuah ketetapan dari Allah SWT seiring dengan berjalannya waktu, kita sebagai manusia pasti akan berubah menjadi tua dan kemudian mati.
       Sidang pembaca, begitu kira-kira gambaran sederhana tentang siklus hidup dan kehidupan manusia dialam dunia ini. Dalam perjalanannya kadang-kadang ada orang yang melewati hidupnya sampai ia berumur panjang seperti seratus tahun, delapan puluh tahun, enam puluh tahun atau ada yang hanya melewati setengah abad saja. Tetapi tidak jarang pula yang masih muda, badan terlihat sehat dan sempurna namun sudah meregang nyawa, tentu dengan cara dan jalan yang berbeda-beda. Atau kita pernah mendengar ada bayi yang masih dalam kandungan yang belum merasakan hidup didunia dan belum sempat merasakan hanyatnya pelukan ibu, dibunuh lantaran kehadiran sijabang bayi  tidak dikehendaki. Kenapa? Karena kehamilannya (buah) dari hubungan terlarang yang menurutnya bisa membuat aib bagi diri dan keluarganya. Dan dibunuhlah sijabang bayi dengan cara aborsi. Na`udzubillahi mindzalik!
       Ajal memang tak pernah memilih kita sudah tua atau muda ia akan datang dengan tiba-tiba. Tidak pagi tentu sore tidak siang tentu malam. Tetapi pagi yang mana, sore yang mana, atau siang yang mana malam yang mana. Itu rahasia Tuhan, hanya Allah SWT yang tahu. Sayangnya manusia melupakan akan datangnya kematian, mereka lupa kalau ajal selalu mengintai dimanapun mereka berada. Mereka terlupakan oleh ramainya dunia, terlena dengan manisnya syahwat, silau dengan gemerlapnya harta. Terlalu sibuk dengan keinginan-keinginan yang belum tercapai. Bagus kalau keinginan itu adalah hal yang berorientasikan akherat, tapi sayangnya kebanyakan dari kita dilenakan oleh keinginan-keinginan yang bersifat kesenangan semu belaka Sampai-sampai kita lupa bahwa kematian sudah sampai dipelupuk mata. Semua terpedaya oleh hingar bingarnya dunia, bergegas menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Baru setelah sakaratul maut datang menghampiri, kita seolah tersadar betapa kehidupan ini amatlah singkat dan merataplah (manusia) dengan penyesalan yang amat sangat. Penyesalan yang tidak pernah habis setelah menyadari bahwa umurnya telah selesai untuk urusan-urusan pangkat dan harta. Tinggalah kini menunggu kedatangan malaikat maut dan merasakan betapa tersiksa dan sakitnya saat sakaratul maut. Sakit yang tak dapat dikira karena amat terasa sakitnya.
      Sebagian Ulama menegaskan bahwa rasa sakit pada sakaratul maut hanya diketahui hakikatnya oleh orang yang sudah merasakannya. Orang yang belum merasakannya tentu hanya bisa mengetahui sekedar berdasarkan analogi dengan berbagai rasa sakit yang pernah dirasakan. Rasa sakit pada sakaratul maut langsung menghujam ruh itu sendiri sehingga menerobos seluruh organ tubuhnya, seluruh jaringan syarafnya, seluruh urat-urat ditubuhnya bahkan juga seluruh persendian tubuhnya, hingga merambati akar rambut dan kulit dari atas kepala hingga ujung kaki.
      Masya Allah! Allahu Akbar! Dapat dibayangkan betapa sakitnya sakaratul maut sehingga sebagian orang mengatakan bahwa kematian itu lebih menyakitkan daripada sabetan senjata tajam, lebih sakit dari gigitan gergaji, dan lebih menyakitkan daripada sayatan gunting. Karena rasa sakit akibat sabetan pedang (senjata tajam) gigitan gergaji dan sejenisnya hanya dirasakan karena adanya ruh atau nyawa.
       Bagaimana pula apabila yang dicabut adalah ruh itu sendiri? Orang yang ditebas pedang masih dapat berteriak minta tolong karena masih tersisa kekuatan dalam hati dan pada lisannya. Akan tetapi orang yang menghadapi sakaratul maut sudah kehilangan suara, sudah kehilangan teriakannya dan kekuatannya sudah melemah. Energi tubuhnyapun sudah musuah. Hal ini karena musibah sakaratul maut terkadang terlalu berat sehingga menguasai hati dengan rasa sakit yang dahsyat sehingga melumpuhkan seluruh anggota tubuh, mengguncang seluruh organ tubuh dan melemahkan seluruh jengkal bagian tubuh, sehingga tidak tersisa lagi kekuatan untuk meminta pertolongan. Bahkan akal sekalipun telah tertutupi dan terganggu pula karena rasa sakit sakaratul maut.
     Sementara lidah tiba-tiba menjadi bisu, seluruh anggota tubuh menjadi lemah. Orang yang berada dalam sakaratul maut berharap untuk dapat beristirahat sejenak melalui erangan dan teriakan atau melalui cara lain. Akan tetapi ia tidak mampu melakukannya. Kalaupun masih tersisa kekuatan, pasti saat ruh dicabut dan diangkat dari dalam tubuh akan terdengar erangan dan suara kerongkongan dan dadanya. Namun saat itu warna tubuhnya sudah berubah dan rasa sakit sudah menyerang seluruh tubuhnya, bagian luar maupun bagian dalamnya. Hingga akhirnya bagian matanya naik sampai menyentuh kelopak mata, sementara lidah tertarik kedalam hingga pangkalnya dan jari jemari juga menjadi kaku.
     Maka jangan ditanya lagi kondisi orang tersebut tatkala urat-uratnya seperti tercabut satu-persatu. Masing-masing anggota tubuh kemudian mulai menjadi mati secara bertahap. Mulanya kedua kaki menjadi dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Masing-masing anggota tubuh mengalami sakaratul maut dan mengalami musibah rasa sakit pada saat itu, hingga nyawa sampai dikerongkongan. Pada saat itulah pandangannya terhadap dunia dan penghuninya mulai sirna dan pintu tobat pun sudah tertutup baginya. Dan tinggallah penyesalan dan kekecewaan yang mendalam menggelayuti dirinya.
     Saudaraku,sesama muslim-muslimat. Akhir  dari tulisan (religius) ini, ingin saya menyampaikan kepada sidang pembaca bahwa sebagai seorang mukmin, sebagai hamba Allah yang sholeh. Yang tangkas melaksanakan perintah-perintahNya, yang tangkas menjauhkan sejauh-jauhnya segala larangan –laranganNya janganlah terlalu takut kepada sakaratul maut, jangan larut, jangan terhanyut. Terlalu berani tidak boleh, terlalu takutpun kepada sakaratul maut jangan, sedang-sedang saja.
*Perhatikan saya sampaikan sebuah Hadist dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Bahwasanya orang mukmin dikunjungi malaikat yang memegang kain sutra berisi minyak kasturi disaat sakaratul maut. Ia mencabut ruhnya dengan perlahan seperti mengambil rambut dari dalam adonan seraya berseru.
(Artinya):” Hai jiwa yang tenang. Pulanglah kehadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridhoi Tuhan.” (QS:Al-Fajr:27-28)
Pulanglah dengan Rahmat dan Ridho Allah. Ketika ruh keluar lalu diletakkan pada minyak kasturi dan bunga-bunga dalam bungkusan sutra dan ditunjukkan kesurga Illiyin.”  (Al-Hadist)
*Dari Abdullah bin Umar ra, katanya (Artinya):” Seorang mukmin ketika masuk kubur menjadi luas kuburnya hingga 70 (tujuhpuluh) hasta. Bunga –bunga harum bertaburan. Sutera dihamparkan baginya. Sedikit hapalan dari Al-Qur`an menjadi penerang baginya seperti cahaya matahari, layaknya seperti pengantin baru. Tiada seorangpun yang berani membangunkannya dari tidurnya kecuali sang kekasih (demikian nikmatnya) *(Dikutip dari buku: Kenikmatan Alam Kubur hal:34 Oleh: Abdurrahman Busyairi

     Sampai disini saya sudahi dulu tulisan ini, terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi insya Allah kita dikesempatan yang lain tentu saja dengan tulisan (religius) saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: KENIKMATAN ALAM KUBUR Oleh: Abdurrahman Busyairi.*

* Artikel religius ini dapat anda temukan pada website:WWW:Hajisunaryo.com.*
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.