Template
Template Template
Template Wednesday, 16 April 2014 Template

Galeri

2.jpg

Memperkenalkan Karya H. Sunaryo A.Y.

 


Sidang pembaca, tahukah antum bahwa penulis website: http://hajisunaryo.com (sudah lebih kurang 200 (dua ratus) judul tulisan bernafaskan Islam (religius) ditulis beliau) sebelum tulisan-tulisannya terfokus kepada artikel-artikel religius yaitu bacaan bernafaskan Islam untuk tujuan Syiar dakwah adalah seorang penulis Cerpen dan Novelis yang religius, artinya: disetiap tulisannya baik itu Cerpen maupun Novel selalu diselipkan dakwah mengingatkan pembaca agar tidak terbuai oleh gemerlapnya dunia yang fana sehingga melupakan akhirat.
 
Padahal akhirat tujuan terakhir kita dan Syurga atau Neraka adalah tempat tinggal kita yang abadi (kekal) untuk selama-lamanya. Dan penulis H. Sunaryo A.Y disetiap Cerpen atau Novel yang ditulisnya juga senantiasa menyelipkan dakwah mengajak pembaca ikut menyebarluaskan nilai-nilai Islam sehingga tidak ada lagi individu-individu (orang Islam) yang menyembah selain kepada Allah SWT.
 
Ingat (kata penulis): Dosa yang tidak terampuni adalah menyekutukan Allah. Memang sekarang beliau tidak lagi menulis Cerpen dan Novel karena karya-karyanya sudah terfokus pada tulisan-tulisan (artikel) reigius bacaan untuk syiar dakwah Islam. Namun sengaja saya perlihatkan sebagai contoh beberapa buku (Novel) karya H. Sunaryo A.Y. kali ini berjudul: PAPA berikut ini.
 
Desember 2013
Dany Wicaksono, S. Kom
 
Template
APA GANJARAN ORANG YANG MENJAGA SHALAT DAN APA HUKUMAN ORANG YANG MELECEHKAN SHALAT LIMA WAKTU ? PDF Print E-mail
Written by H. Sunaryo A.Y.   
Thursday, 19 November 2009 00:33

Shalat ialah berhadap hati kepada Allah SWT sebagai ibadah, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat – syarat yang telah ditentukan syara’. Tahukah antum (sidang pembaca) bahwa dari lima Rukun Islam, hanya perintah Shalat yang tidak diterima oleh Rasulullah SAW di bumi, tetapi langsung diterima dari langit (diluar angkasa) yaitu pada ketika terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj dan diterima oleh Junjungan kita, Nabi termulia, Rasul paling agung, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril As tetapi langsung (berhadapan) dari Allah SWT, Tuhan Pencipta Dan Pemelihara Alam Semesta, Robbul ’Alamin.

 

·        Shalat adalah salah satu ibadah khusus yang merupakan dialog (pembicaraan) langsung antara muslim dengan Tuhannya (Allah SWT) dalam pembicaraan mana dikemukakan :

a.      Pengakuan atas ke Maha Esaan dan Kesempurnaan seluruh sifat-Nya, serta pernyataan syukur atas nikmat-Nya yang tak terhingga (terhitung) atas seluruh makhluk-Nya, termasuk diri pribadi orang yang shalat sendiri.

b.     Permohonan akan keampunan dari segala dosa dan kesalahan yang telah terjadi serta kebebasan dari siksa neraka di akhirat. Dan kebahagiaan serta keridhaan–Nya dunia dan akhirat.

c.      Ikrar atau janji pengabdian (kepatuhan atas segala ajaran–Nya) khusus bagi-Nya serta penyerahan diri yang mutlak kepada-Nya.

 

·        Sementara titik sasaran atau tujuan daripada shalat adalah :

 

1.      Memupuk keimanan terhadap Allah SWT agar setiap waktu jiwa kita senantiasa teringat dan terikat kepada-Nya sehingga seluruh gerak hidup kita terbimbing kepada perbuatan – perbuatan yang terpuji dan di ridhoi-Nya serta terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan dimurkai-Nya.

2.      Shalat yang dapat mencapai titik sasaran demikian adalah shalat yang dilakukan dengan khusu’ yaitu yang dijiwai oleh kesatuan antara tiga unsur yakni unsur : Kesadaran akan maksud dan tujuan (titik sasaran) shalat, unsur pengertian akan arti segala ucapan (bacaan) dan gerak yang dilakukan dan unsur perhatian penuh (konsentrasi) kepada apa yang sedang diucapkan dan dilakukan. 

 

·        Shalat seperti dikatakan diatas adalah salah satu ibadah menurut ajaran Islam yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dilakukan dengan cara-cara tertentu menurut syarat-syarat yang telah ditentukan syara’

 

Ada dua macam shalat sesuai dengan hukum yang ditentukan, yaitu shalat wajib dan shalat sunnat. Shalat wajib (fardhu) wajib dikerjakan oleh orang yang mengaku Islam (beriman kepada Allah dan Rasul-Nya) dengan syarat baligh dan sehat pikiran (berakal) dan berdosa bagi yang tidak mengerjakan (melakukan) shalat. Sedangkan shalat sunnat mendapat pahala bagi yang mengerjakan tetapi tidak berdosa bagi orang yang tidak mengerjakannya.

 

Di dalalm kitab suci Al-Qur’an banyak sekali terdapat dalil yang mewajibkan (kita) insan beriman shalat, begitu juga didalam Hadist-hadist Rasulullah SAW.

 

·         Misalnya perhatikan Firman Allah SWT :

 

”Dan dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat dan tunduklah (rukuk) bersama-sama orang-orang yang pada rukuk.” (QS. Al-Baqarah : 43)

 

·        Atau Firman-Nya :

”Kerjakanlah shalat sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang jahat (keji) dan yang mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) itu adalah ibadah yang paling utama.” (QS. Al-Ankabut : 45)

 

·        Kemudian Firman-Nya :

”Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha : 132)

 

·        Allah SWT berfirman :

 

 

”Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ : 103)

 

·        Firman Allah SWT :

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’.” (QS. AL-Baqarah : 45)

 

·        Dan Firman-Nya :

”Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(QS. Thaha : 14)

 

·        Dan Firman-Nya :

”Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS. Alaq : 19)

 

Shalat Jum’at hukumnya wajib (fardhu) bagi tiap-tiap muslim, mukallaf, laki-laki, sehat dan bermukim (bukan musafir).

 

·        Perhatikan Firman Allah SWT :

 

 

”Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk mengerjakan shalat Jum’at, maka segeralah kamu pergi mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikian yang lebih baik bagimu, kalau kamu mengetahui.” (QS. Al-Jum’ah : 9)

 

·        Dan Firman-Nya :

 

Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. Al-’Ankabut : 45)

 

·        Dan Hadist-hadist Nabi SAW berikut ini :

”Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun dan pukullah (kalau enggan (tidak mau) melakukan shalat) diwaktu mereka meningkat usia sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud).

 

                  Didalam Hadist ini, perintah shalat ditanamkan kedalam hati dan jiwa anak-anak dengan cara pendidikan yang cermat serta dilakukan sejak kecil.

 

·        Nabi Muhammad SAW bersabda :

”Wanita itu kalau haid tidak wajib shalat dan puasa.” (HR. Bukhari)

 

·        Berkata Ummu Salamah :

”Wanita-wanita yang nifas dizaman Nabi SAW tidak shalat 40 (empat puluh) hari.” (HR. Turmudzi)

 

                 

 

 

 

 

 

                  Shalat seperti dikatakan diatas wajib bagi laki-laki dan wanita yang telah cukup umur (baligh) berakal dan dalam keadaan sadar. Tetapi sesuai Hadist tersebut diatas dikecualikan bagi wanita yang sedang Haid dan nifas tidak wajib shalat selama waktu berlangsungnya haid dan nifas tersebut. Apa itu Haid dan apa itu Nifas ? Wanita yang sedang Haid adalah wanita yang sedang mengeluarkan darah yang biasa keluar setiap bulan, sementara Nifas adalah wanita yang mengeluarkan darah yang keluar sesudah melahirkan.

·        Hadist dari Ubadah Ibnu Ash-Shamit, bersabda Nabi SAW :

 

”Ada lima shalat yang Allah wajibkan kepada hamba - hamba, barangsiapa yang mengerjakannya dan tidak menyia - nyiakannya sedikit pun karena menganggap remeh akan haknya maka Allah memberikan janji akan memasukannya kedalam syorga. Barangsiapa yang tidak mengerjakannya maka Allah tidak memberikan janji kepadanya, jika berkehendak maka Allah akan mengadzabnya dan jika berkehendak maka Dia akan memasukannya kedalam Syorga.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

·        Dari Jabir r.a. bahwa Nabi SAW bersabda :

”Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai jernih yang mengalir didepan pintu rumah salah seorang diantara kalian, dia mandi disana setiap hari sebanyak lima kali, maka apakah kalian melihat akan ada kotoran yang tersisa padanya ? Para sahabat menjawab: ”Tentu tidak ada.” Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Maka sesungguhnya shalat lima waktu itu akan membersihkan dosa-dosa sebagaimana air yang membersihkan kotoran.” (HR. Muslim)

·        Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Sesungguhnya shalat itu merupakan pelebur dosa (yang dilakukan) diantara waktu-waktu shalat itu, selagi dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

 

·        Bersabda Nabi SAW :

”Pemisah antara seseorang dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

 

·        Dari Buraidah r.a. bahwa bersabda Rasulullah SAW :

”Perjanjian antara kami dan antara mereka (orang munafik) adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan Turmudzi)

 

·        Diriwayatkan dari Syuraik dari Abi Wail dari Abdullah, Rasulullah SAW bersabda :

”Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah shalat dan perkara pertama kali yang akan diputuskan diantara manusia adalah urusan darah.” (HR. An-Nasa’i dan Thabrani.)

 

Saudaraku, sidang pembaca yang budiman, sesuai judul tulisan (artikel) kita tersebut diatas, mari kita simak sebuah Hadist Nabi SAW : (Artinya) ”Sesungguhnya yang mula-mula dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka menanglah dia dan lepas dari siksaan Allah. Dan jika shalatnya rusak, maka sungguh rugilah dia dan sia-sialah amal – amalnya. Maka berkatalah Tuhan Azza Wajalla : Lihatlah bagi hamba-Ku itu, adakah tambahan (shalat sunnatnya) atau tidak ? Jika ada, maka dengan itu disempurnakan kekurangan – kekurangan ibadah fardhunya. Kemudian dilakukanlah semua amal ibadahnya dengan cara demikian.” (HR, Turmudzi).

 

Berdasarkan Hadist shaheh yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi tersebut diatas, jelas bahwa yang pertama-tama dihisab dari amal kita pada hari kiamat adalah shalat kita. (shalat fardhu kita yang lima waktu).

 

                  Karena itu layak sekali kalau Allah SWT menganggap shalat sangat penting dan mendasar, sebab kedudukan shalat itu begitu utama, bahkan dalam sebuah Hadist dikatakan shalat merupakan tiang agama. Barangsiapa mendirikan shalat berarti menegakkan agama Allah dan barangsiapa melalaikan shalat, berarti merobohkan agama! Sekarang jujur saja, mari bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita mendirikan shalat? Atau malah kita telah melalaikan shalat? Mendirikan shalat itu artinya setiap datang waktu kita menyegerakan shalat, melalaikan shalat itu artinya meskipun kita sudah tahu (mendengar) waktu shalat itu sudah tiba, tetapi kita masih saja menunda-nunda shalat. Sementara kita (manusia dan seluruh makhluk di dunia) pasti akan mati Qullu Nafsin Dzaiqatul maut, setiap yang bernyawa (hidup) akan mengalami mati. Dan kematian datangnya tidak dapat diterka, bisa hari ini, besok, lusa atau seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi yang pasti kematian itu akan datang kepada kita. Ingat! Menyegerakan shalat mendapat ganjaran (pahala) dan menunda – nunda shalat tentu ada sangsi (hukuman) nya. Jangan sekali-kali kita mempunyai pikiran untuk menunda-nunda shalat. Karena sekali kita sudah mulai menunda shalat, kita akan terus mengulang dan terus mengulang menunda shalat. Padahal Allah SWT memberikan kita umur tidak lain untuk kita shalat (ibadah) dan memperbanyak amal shaleh dan amal-amal ibadah kita itu adalah sebagai bekal akhirat kita.

 

                  Kalau kita selalu menunda-nunda shalat, kita akan menjadi insan yang miskin, miskin ibadah, miskin amalan dan kalau sudah demikian kebiasaan buruk ini akan mengantarkan kita kepada kesengsaraan – kesengsaraan yang kekal di akhirat kelak. Nau’udzubillah! Summa Nau’udzubillah. Lantas apa ganjaran dan apa pula hukuman orang yang menunda-nunda shalat?

 

                  Sidang pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa ganjaran bagi orang-orang yang takwa (Khusu’ Shalatnya), tidak menunda-nunda shalat, berbakti serta taat dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan taat menjauhi segala larangan-larangan-Nya adalah berupa Syorga (Al-Jannah)

 

·        Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

Sungguh telah berbahagialah orang-orang mukmin yang mereka khusu’ dalam shalatnya.” (QS. Mukmin : 1-2)

 

Tetapi Saudaraku, hukuman bagi mereka yang lalai (menunda-nunda shalat, melecehkan, meremehkan bahkan meninggalkan shalat) adalah sangat buruk dan keji (pada hari kiamat) yaitu menjadi penghuni Neraka Saqor.

 

·        Sesuai Firman Allah SWT :

”Apakah yang memasukkan kamu kedalam Saqor (neraka). Mereka menjawab : ”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir : 42-43)

                 

·        Dan Firman Allah SWT berikut ini :

”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

 

·        Dan Firman-Nya :

”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un : 4-5)

 

Apa kata orang-orang berilmu (ulama-ulama) besar (terdahulu) setentang surat Al-Ma’un ayat 4-5 ini ?

* Atho’ Ibnu Yasar berkata : ”Al-Wail adalah lembah di Neraka Jahanam yang andaikan gunung dilemparkan kesana maka akan lumer (leber, meleleh) karena saking panasnya.”

* Sedangkan Ibnu Abbas r.a. mengatakan :

Wail adalah sebuah lembah di Jahanam, yang Jahanam meminta sebagian panas kepadanya dan ia (lembah Jahanam) merupakan tempat tinggal orang-orang yang mengakhir-akhirkan shalat dari waktunya.”

 

·        Sementara Al-Hasanul Bashri mengomentari : ”Dia adalah orang yang lalai dari shalat sehingga keluar dari waktunya.”

·        Dan orang berilmu (ulama) Wahab bin Munabbih berkata : ”Sungguh mengherankan keadaan orang-orang, mereka menangis terhadap orang yang mati jasadnya, tetapi mereka tidak pernah menangis terhadap orang yang mati hatinya.”, yang dia (Wahab) maksudkan dengan mati hatinya adalah dengan meninggalkan shalat.

 

·        Dari Abu Darda r.a.  yang dia berkata :

”Kekasihku (Rasulullah SAW) telah berwasiat kepadaku : (Yaitu) ”Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu walaupun engkau dipenggal, walaupun engkau dibakar, dan janganlah engkau meninggalkan shalat maktubah (wajib) dengan sengaja. Barangsiapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka aku lepas tanggungan darinya Dan janganlah engkau meminum khamar karena sesungguhnya ia adalah konci segala keburukan.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi).

 

  • Hadist dari Buraidah r.a. bahwa telah bersabda rasulullah SAW :

”Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar maka telah terputus seluruh amalannya.” Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan : ”Seakan-akan keluarga dan hartanya lenyap.” (HR. Muslim)

 

                  Saudaraku sesama muslim, kalau kita masih suka (sering) meninggalkan shalat (lalai, menunda-nunda, melecehkan, meremehkan dan menyia-nyiakan hak Allah.) Apakah kelak yang akan kita katakan kepada Tuhan kita (Allah SWT) di Akhirat pada Hari Kiamat nanti ketika Sang Maha Pencipta bertanya kepada kita tentang shalat yang merupakan pertanyaan pertama kali untuk kita? Kalau kita menjawab : ”Aku tidak melakukannya.” Apakah akan diterima amal-amal kita sebaik apapun amal itu? Jawabnya: Sebaik apapun amal-amal kita, sesuai Hadist yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut diatas tetap tidak diterima oleh Allah SWT karena kita lalai didalam shalat kita. Naudzubillah! Summa Naudzubillah. Sekarang perhatikan pendapat Ulama besar, beliau panulis kitab terkenal AL-ZAWAJIR setentang orang-orang yang menjaga (menyegerakan) shalat dan orang-orang yang lalai (menunda-nunda) shalat yang lima waktu seperti tersebut ini :

 

·        Imam Ahmad bin Al-Haitami dalam kitabnya, Al-Zawajir mengatakan : Bahwa siapa saja yang menjaga shalatnya yang lima waktu maka Allah SWT akan memuliakannya dengan 5 (lima) perkara. Dan barangsiapa yang melecehkan shalat (mengakhirkan, mempermudah atau meninggalkannya) akan diancam oleh Allah SWT dengan 14 (empat belas) ancaman (siksaan) yaitu : 5 (lima) ancaman di dunia, 3 (tiga) ancaman pada waktu matinya, 3 (tiga) ancaman ketika berada didalam kubur dan 3 (tiga) ancaman tatkala dibangkitkan dari kubur.

 

·        5 (Lima) perkara yang Allah SWT akan memuliakannya bagi orang yang mengerjakan (menjaga) shalatnya, adalah :

1.      Dihindarkan dari kesempitan kubur

2.      Dihindarkan dari siksa (adzab) kubur

3.      Disodori kitab amalnya dengan tangan kanannya.

4.      Mampu berjalan diatas Shirat bagaikan kilat.

            5.   Dimasukkan Syurga tanpa dihisab.

 

·        Dan 5 (Lima) ancaman didunia berupa :

1.      Dicabut berkat umurnya

2.      Tanda-tanda keshalehannya dihapus dari mukanya (wajahnya)

3.      Allah tidak memberikan pahala atas amal yang diperbuatnya.

4.      Do’anya tidak dikabulkan

5.      Tidak mendapatkan bagian atas do’a orang-orang shalihin.

 

·        3 (Tiga) ancaman ketika matinya berupa :

1.      Matinya dalam keadaan hina

2.      Mati dalam keadaan lapar

3.      Mati dalam keadaan dahaga yang sangat.

 

 

 

·        3 (Tiga) hukuman didalam kubur berupa :

1.      Disempitkan kuburnya hingga hancur tulang belulangnya.

2.      Dinyalakan api didalam kubur, sehingga siang malam bergelimang didalamnya.

3.      Didatangkan kepadanya Syuja’ yaitu ular buta yang terbuat dari api, kukunya dari besi dan ia (ular) itu sepanjang hari menyiksa si ahli kubur.

 

·        3 (Tiga) siksa ketika dibangkitkan dari kubur berupa :

1.      Diberikan hisabnya

2.      Dimurkai Allah

3.      Dijebloskan kedalam Neraka.

 

Demikian keterangan (gambaran) ganjaran bagi pahala dan ancaman siksa (hukuman) yaitu bagi orang-orang yang shalat tepat (diawal) waktu dan bagi yang senantiasa menunda-nunda (lalai) didalam mengerjakan shalat yang lima waktu yang terdapat (tertulis) didalam KITAB AL-ZAWAJIR.

 

Setelah kita mengetahui betapa mengerikannya ancaman siksa bagi orang yang melecehkan, menggampangkan, mengulur-ngulur waktu atau bahkan meninggalkan sama sekali dari mengerjakan shalat, apakah kita masih mau bersikap lalai dengan menunda-nunda shalat kita? Sebagai orang Islam yang meskipun setipis daun bawang masih ada iman didada ini, tentu kita merasa takut dan wujud dari perasaan takut ini etisnya disikapi dengan merubah kebiasaan buruk kita yaitu dari lalai menjadi tangkas (menyegerakan) shalat kita di setiap awal waktu. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Taufik dan Hidayah-Nya kepada kita sehingga dengan sebab kasih sayang dan izin-Nya kita sanggup (mampu) tangkas menyegerakan shalat disetiap awal waktu dan mampu (sanggup) membuang jauh-jauh (tanpa tersisa sedikitpun) perasaan dan keinginan untuk menunda-nunda (lalai) melaksanakan shalat.

 

 

Semoga Allah SWT berkenan memberikan kekuatan memberi kemudahan-kemudahan sehingga didalam meningkatkan ibadah kita kepada Allah SWT dengan rasa iman, khusu’ serta ikhlas sesuai niat Li ibtighaa’i mardhaatillah (yakni untuk memperoleh keridhoan Allah semata) Insya Allah tangkas kita mengerjakannya. Amin! Ya Robbal Alamin.

 

            Akhir dari tulisan (artikel) religius sebagai syiar dakwah lewat tulisan ini, penulis mengajak sidang pembaca mari kita bertekad, kita patri niat dihati kita, bahwa mulai saat (detik) ini kita tidak lagi menunda-nunda shalat kita. Begitu suara Azan berkumandang sebagai pertanda waktu shalat sudah tiba, kita tinggalkan segala kesibukan, kita menyegerakan mengambil air Wudhu’ dan kita shalat. (Kita datangi masjid (musholla) kita shalat berjamaah). Subhanallah! Kalau sudah demikian keseharian kita, kalau sudah demikian kapanpun dan dimanapun aktifitas ibadah kita (keluarga) kita, betapa indahnya hidup ini, betapa nyamannya kehidupan ini dan sesungguhnyalah betapa berbahagianya hidup dan kehidupan orang-orang Islam. Allahu Akbar!

 

 

 

• • •

(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Pedoman Shalat Praktis oleh : H. Gazali Syahlan, buku Meraih Menggapai Pahala oleh : H. Sunaryo A.Y., buku Peringatan Penting Seputar Shalat (Judul asli : Tahdzirul Muslimin Min Ta’hirisshalat) Penterjemah : Khalif Muttaqin Djawari, buku : Risalah Tuntunan Shalat lengkap oleh : Drs. Moh Rifa’i dan buku : Fiqih untuk Madrasah Aliyah oleh Drs. H. Moh Rifa’i dan Drs. Abd Aziz)

Last Updated on Sunday, 22 November 2009 16:35
 
Template
Template Template Template
 

Pesan


Shoutbox
Template Template