Template
Template Template
Template Friday, 31 October 2014 Template

Galeri

2.jpg

Memperkenalkan Karya H. Sunaryo A.Y.

 

Sidang pembaca, tahukah antum bahwa penulis website: http://hajisunaryo.com (sudah lebih kurang 200 (dua ratus) judul tulisan bernafaskan Islam (religius) ditulis beliau) sebelum tulisan-tulisannya terfokus kepada artikel-artikel religius yaitu bacaan bernafaskan Islam untuk tujuan Syiar dakwah adalah seorang penulis Cerpen dan Novelis yang religius, artinya: disetiap tulisannya baik itu Cerpen maupun Novel selalu diselipkan dakwah mengingatkan pembaca agar tidak terbuai oleh gemerlapnya dunia yang fana sehingga melupakan akhirat.
Padahal akhirat tujuan terakhir kita dan Syurga atau Neraka adalah tempat tinggal kita yang abadi (kekal) untuk selama-lamanya. Dan penulis H. Sunaryo A.Y disetiap Cerpen atau Novel yang ditulisnya juga senantiasa menyelipkan dakwah mengajak pembaca ikut menyebarluaskan nilai-nilai Islam sehingga tidak ada lagi individu-individu (orang Islam) yang menyembah selain kepada Allah SWT.
Ingat (kata penulis): Dosa yang tidak terampuni adalah menyekutukan Allah. Memang sekarang beliau tidak lagi menulis Cerpen dan Novel karena karya-karyanya sudah terfokus pada tulisan-tulisan (artikel) reigius bacaan untuk syiar dakwah Islam. Namun sengaja saya perlihatkan sebagai contoh beberapa buku (Novel) karya H. Sunaryo A.Y. kali ini berjudul: SUMIRAH berikut ini.
September 2014
Dany Wicaksono, S. Kom
 
Template
APA ITU PENGERTIAN FITNAH, BURUK SANGKA DAN KHIANAT ? PDF Print E-mail
Written by H. Sunaryo A.Y.   
Wednesday, 07 July 2010 02:19

Saudaraku sesama muslim.

Alhamdulillah, jumpa lagi kita kali ini dakwah saya (lewat tulisan) seperti judul tersebut di atas, semoga menjadi penawar yang menyejukkan dan dapat menjadi sebagai tambahan ilmu buat sidang pembaca. Sehingga dengan demikian nilai-nilai Islam menjadi kian dapat tersebar luaskan.

            Saudaraku, kata fitnah di dalam bahasa Arab berarti namimah yaitu menyebarluaskan berita jelek atau cerita yang tidak benar tentang suatu hal atau orang lain, baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Fitnah ini sebenarnya ditegakkan atas tiga perkara yaitu kedustaan, kedengkian dan kemunafikan. Fitnah sering terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Fitnah tidak sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Sehingga Allah SWT menggambarkan, bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

  • Perhatikan Firman Allah SWT :

 

 

“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah : 191)

            Luka yang ditimbulkan oleh tajamnya pedang, mungkin masih bisa diobati. Tetapi luka yang ditimbulkan oleh tajamnya lisan (omongan, kata-kata) susah sekali dicari penawarnya. Itulah mengapa fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan. Saudaraku, seorang penyair Arab dalam sebuah syairnya mengatakan :

 

“Luka tombak ada obatnya. Luka lidah penawarnya tiada.”

            Sementara dampak yang ditimbulkan oleh fitnah selalu negatif, tidak pernah ada yang positif. Karena itulah fitnah dikatakan berbahaya. Adapun bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh fitnah antara lain sebagai berikut :

  1. Menimbulkan kesengsaraan, baik bagi si pemfitnah maupun bagi yang di fitnah.
  2. Menimbulkan keresahan ditengah masyarakat
  3. Merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan
  4. Mencelakakan orang lain
  5. Merugikan orang lain dan diri sendiri
  6. Masuk Neraka (mendapat siksa)
  7. Diancam tidak masuk Syurga, sebagaimana Hadist Nabi SAW tersebut ini :
    • Rasulullah SAW bersabda :

 

“Tidak akan masuk Syurga orang yang suka adu domba (memfitnah).” (HR. Bukhari)

            Lantas bagaimana cara menghindari penyakit fitnah itu ?  Untuk menghindari penyakit fitnah itu ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu :

  1. Selalu waspada dan hati-hati dalam setiap masalah
  2. Jangan membuka rahasia (aib) orang lain
  3. Menumbuhkan rasa persamaan dan kasih sayang sesama manusia
  4. Mengamalkan ajaran agama
  5. Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT dan merasa cukup atas segala pemberian Allah.
  6. Menjauhi seluruh penyebabnya, seperti mengikuti hawa nafsu, persaingan duniawi yang tidak bersih dan lain-lain
  7. Berhati-hati dalam berbicara, bertindak dan dalam menerima kebenaran informasi.

Saudaraku, beralih kita kepada masalah buruk sangka. Buruk sangka di dalam bahasa Arab disebut Su’uzhan, artinya prasangka-prasangka buruk atau menyangka buruk terhadap Allah dan Rasul-Nya dan juga berprasangka buruk serta curiga kepada orang lain tanpa alasan.

·        Kita perhatikan Firman Allah SWT yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an :

 

“Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang dihatinya ada penyakit berkata : “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kita, melainkan tipuan.” (QS. Al-Ahzab : 12)

 

·        Dan di dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman :

 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?  Maka tentunya kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

            Ayat pertama menjelaskan kepada kita bahwa orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit hati itu menganggap bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan apa-apa kepada manusia. Inilah yang dinamakan su’uzhan kepada Allah dan Rasul-Nya. Termasuk su’uzhan kepada Allah adalah kita menganggap Allah tidak mengabulkan do’a kita, Allah menciptakan kita dalam kondisi yang jelek dan lain-lain. Di dalam ayat kedua di atas ada 3 (tiga) perbuatan yang harus dihindari oleh orang-orang yang beriman. Ketiga hal tersebut adalah :

a.       Berprasangka buruk

b.      Memata-matai orang (mencari-cari kesalahan orang lain)

c.       Menggunjing orang lain

Buruk sangka adalah dosa, karena ia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi di antara orang yang tidak mencuri, kemudian disangka bahwa dia mencuri, sehingga semua orang bersikap lain kepada dirinya ? Rasulullah SAW sangat melarang orang berburuk sangka.

·        Perhatikan Sabda Nabi Muhammad SAW :

 

“Sekali-kali janganlah kamu berburuk sangka, karena sungguh buruk sangka itu adalah perkataan yang paling bohong. Dan janganlah kamu mengintai-intai dan janganlah kami saling berebut dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling membelakangi dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari, Muslim dan Daud)

            Mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing adalah membicarakan aib dan keburukan seseorang, sedang ia tidak hadir. Hal ini semua merupakan bentuk-bentuk kemunafikan. Orang asyik sekali membongkar rahasia keburukan dan kebusukan seseorang, ketika orang orang itu tidak ada. Dan ketika orang itu datang, maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya, kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung. Ini adalah perbuatan hina dan pengecut.

            Saudaraku, buruk sangka adalah dosa dan setiap dosa akan berakibat sengsara bagi siapa saja yang melakukannya. Sementara akibat yang ditimbulkan dari berburuk sangka antara lain adalah : Dapat memutuskan tali silaturahmi, merugikan orang lain dan diri sendiri, mengotori pikiran, dibenci Allah SWT dan Rasul-Nya serta akan dibenci dan dihindari (dikucilkan) orang lain.

            Kemudian seperti penyakit hati lainnya maka penyakit buruk sangka ini disebabkan oleh : Menuruti hawa nafsu, menuruti bujukan syetan, tidak percaya diri, iri dengan orang lain dan kurangnya mensyukuri nikmat Allah SWT. Lantas, bagaimana cara menghindari buruk sangka itu ? Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk kita menghindari penyakit buruk sangka, yaitu : Usahakan membayangkan bagaimana sedihnya kalau diri kita dijadikan objek buruk sangka, dengan demikian tentunya bahwa kita juga tidak mau kalau diri kita dijadikan objek, begitu juga orang lain. Lakukan yang positif misalnya dengan mempererat tali persaudaraan, menumbuhkan kesadaran dan hormat menghormati dan jangan dilupakan isi rohani kita dengan santapan-santapan bergizi seperti tholabul ilmi, dengan banyak belajar tentang ilmu-ilmu agama.

            Saudaraku, sekarang pembahasan kita sampai pada setentang pengertian khianat. Khianat artinya mengingkari tanggung jawab, berbuat tidak setia atau melanggar (mengingkari) janji yang telah dibuat. Secara luas, khianat berarti mengingkari tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, baik datangnya dari orang lain maupun dari Allah SWT. Penyakit hati khianat ini muncul karena adanya dorongan untuk mendapatkan keuntungan  pribadi dengan mengorbankan sahabat, kelompok seperjuangan atau negara. Selain itu, khianat juga biasanya muncul karena ingin mendapatkan keuntungan pribadi yang banyak dengan jalan pintas.

·        Didalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27)

·        Dan di dalam sebuah Hadist, bersabda Rasulullah SAW :

 

“Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang telah mempercayai mu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Ashabus Sunan)

            Hadist di atas memerintahkan kita untuk menunaikan amanat dan melarang kita berkhianat. Ada juga hadist lain yang menyatakan bahwa salah satu dari ciri (tanda) orang munafik adalah berkhianat.

            Khianat merupakan penyakit yang sangat berbahaya, baik bagi diri penderitanya maupun bagi masyarakat dan bahkan negaranya. Dan di antara akibat yang ditimbulkan oleh penyakit khianat antara lain adalah : Merugikan diri sendiri dan orang lain, tidak akan dipercaya orang, menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, dibenci Allah SWT dan Rasul-Nya serta kelak apabila meninggal dunia masuk neraka.

            Kemudian bagaimana cara menghindari penyakit Khianat itu ? Saudaraku, ada beberapa cara menghindari penyakit khianat, antara lain seperti tersebut ini : Membiasakan diri melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap segala hal dihadapi, menyadari akibat perbuatan khianat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, jujur terhadap keadaan dan selalu mensyukuri nikmat serta selalu berdo’a kepada Allah SWT agar terhindar dari penyakit khianat.

            Saudaraku, saya sudahi dulu tulisan (artikel) religius saya ini, harapan saya semoga tulisan ini mendapat tempat di hati setiap pembaca, sehingga nawaitu penulis yang mengketengahkan artikel ini sebagai syiar dakwah menjadi dapat tersebar luaskan…

***

(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku. Oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Yang disusun berdasarkan : Integrasi Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Agama Islam Dan Pola Pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Yang telah disesuaikan dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 118/u/2002)
Last Updated on Friday, 09 July 2010 02:39
 
Template
Template Template Template
 

Pesan


Shoutbox
Template Template