Template
Template Template
Template Saturday, 19 April 2014 Template

Galeri

5.jpg

Memperkenalkan Karya H. Sunaryo A.Y.

 


Sidang pembaca, tahukah antum bahwa penulis website: http://hajisunaryo.com (sudah lebih kurang 200 (dua ratus) judul tulisan bernafaskan Islam (religius) ditulis beliau) sebelum tulisan-tulisannya terfokus kepada artikel-artikel religius yaitu bacaan bernafaskan Islam untuk tujuan Syiar dakwah adalah seorang penulis Cerpen dan Novelis yang religius, artinya: disetiap tulisannya baik itu Cerpen maupun Novel selalu diselipkan dakwah mengingatkan pembaca agar tidak terbuai oleh gemerlapnya dunia yang fana sehingga melupakan akhirat.
 
Padahal akhirat tujuan terakhir kita dan Syurga atau Neraka adalah tempat tinggal kita yang abadi (kekal) untuk selama-lamanya. Dan penulis H. Sunaryo A.Y disetiap Cerpen atau Novel yang ditulisnya juga senantiasa menyelipkan dakwah mengajak pembaca ikut menyebarluaskan nilai-nilai Islam sehingga tidak ada lagi individu-individu (orang Islam) yang menyembah selain kepada Allah SWT.
 
Ingat (kata penulis): Dosa yang tidak terampuni adalah menyekutukan Allah. Memang sekarang beliau tidak lagi menulis Cerpen dan Novel karena karya-karyanya sudah terfokus pada tulisan-tulisan (artikel) reigius bacaan untuk syiar dakwah Islam. Namun sengaja saya perlihatkan sebagai contoh beberapa buku (Novel) karya H. Sunaryo A.Y. kali ini berjudul: PAPA berikut ini.
 
Desember 2013
Dany Wicaksono, S. Kom
 
Template
APA ITU SHALAT JAMAK DAN QASHAR DAN BAGAIMANA TATA CARA ATURANNYA? PDF Print E-mail
Written by H. Sunaryo A.Y.   
Thursday, 20 May 2010 08:31

 

Sidang pembaca, Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa khabar? Alhamdulillah jumpa lagi kita (lewat tulisan) kali ini kita akan membahas sekitar materi setentang tata cara dan aturan shalat Jamak dan Qashar sesuai judul artikel religius kita tersebut diatas.

Saudaraku, didalam kehidupan keseharian kita bukan mustahil kalau suatu waktu kita mengadakan perjalanan misalnya berkunjung kerumah saudara kita, sanak famili kita yang jauh dari tempat tinggal kita bukan? Sehingga kita terkadang mendapatkan kesulitan untuk melaksanakan shalat. Sementara shalat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Terkadang kita juga diberi cobaan berupa sakit, sampai-sampai kita tidak kuat untuk bangun. Lantas bagaimana kita shalat padahal shalat itu tidak boleh ditnggalkan? Kalau salah berpikir, sekilas memang shalat seperti beban yang memberatkan. Namun sebenarnya tidak, bahkan ternyata shalat itu adalah kebutuhan kita sebagai manusia. Bagi insan beriman, tidak shalat satu waktu saja, terasa seperti kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan serasa saat-saat itu kehidupan kita hampa, kosong serta tidak bermakna. Bukankah perasaan yang sedemikian itu merupakan suatu bukti bahwa bagi manusia (insan beriman) shalat itu adalah suatu kebutuhan ?

 

 

Seperti dikatakan diatas, hukum mendirikan shalat itu wajib dalam arti tidak boleh ditinggalkan. Tetapi jika kita dalam perjalanan, sedang hujan lebat atau kita sedang sakit, sedang takut, ternyata Islam memberikan ruhshah (keringanan) kepada kita didalam melaksanakannya, yaitu berupa Jamak dan Qashar. Sekarang sebuah pertanyaan, apa shalat Jamak itu ? Dan Bagaimana tata cara dan aturan serta tuntunannya? Baik, kita mulai dengan pembahasan materi kita.

·        Shalat Jamak adalah : Shalat yang digabungkan, yaitu mengumpulkan dua shalat fardhu yang dilaksanakan dalam satu waktu. Misalnya, shalat dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur atau pada waktu Ashar. Shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib atau pada waktu Isya’. Sedangkan Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh digabungkan dengan shalat lain. Shalat Jamak ini boleh dilaksankan karena bebrapa alasan (halangan) berikut ini:

 

a.      Dalam perjalanan yang bukan untuk maksiat

b.     Apabila turun hujan lebat

c.      Karena sakit dan takut

d.     Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni 81 km (Begitulah yang disepakati oleh sebagian Imam Madzhab sebagaimana disebutkan dalam kitab AL-Fikih, Ala al Madzhabhib al Arba’ah)

 

            Tetapi sebagian ulama lagi berpendapat bahwa jarak perjalanan (musafir) itu sekurang-kurangnya dua hari perjalanan kaki atau dua marhalah, yaitu 16 (enam belas) Farsah, sama dengan 138 (seratus tiga puluh delapan) km.

            Saudaraku, sidang pembaca.

Mengenai jarak perjalanan yang menyebabkan musafir diperbolehkan mengqoshar shalat para ulama memang berbeda pendapat. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik beserta pengikut keduanya, batas minimal jarak bepergian (safar) untuk dapat mengqoshar shalat adalah 2 (dua) marhalah (48 mil) yaitu 16 Farsah atau 138 km. Sedangkan menurut Imam Hanafi, mengqoshar shalat baru boleh dilakukan apabila jarak perjalanan yang ditempuh mencapai 3 (tiga) marhalah (72 mil) yaitu 24 Farsah atau 207 km.

 

·        Shalat jamak dapat dilaksanakan dengan 2 (dua) cara:

1.      Jamak Taqdim (Jamak yang didahulukan) yaitu menjamak 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang pertama. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Dzuhur atau shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib.

 

·        Syarat syah Jamak Taqdim ialah:

a.      Berniat menjamak shalat kedua pada shalat pertama

b.     Mendahulukan shalat pertama, baru disusul shalat kedua

c.      Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting

 

2.      Jamak Ta’khir (jamak yang diakhirkan), yaitu menjamak 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang kedua. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Ashar atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ dilaksanakan pada waktu shalat Isya

·        Syarat Syah Jamak Ta’khir ialah:

a.      Niat (melafazhkan pada shalat pertama) yaitu : ”Aku ta’khirkan shalat Dzuhurku diwaktu Ashar.”

b.     Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting.

 

Dalam Jamak ta’khir tidak disyaratkan mendahulukan shalat pertama atau shalat kedua. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar boleh mendahulukan Ashar baru Dzuhur atau sebaliknya. Muadz bin Jabal menerangkan bahwasanya Nabi SAW dipeperangan Tabuk, apabila telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau kumpulkan antara Dzuhur dan Ashar dan apabila beliau ta’khirkan shalat Ashar. Dalam shalat Maghrib begitu juga, jika terbenam matahari sebelum berangkat, Nabi SAW mengumpulkan Maghrib dengan Isya’ jika beliau berangkat sebelum terbenam matahari beliau ta’khirkan Maghrib sehingga beliau singgah (berhenti) untuk Isya’ kemudian beliau menjamakkan antara keduanya.

Sedangkan shalat Qashar ialah: Shalat yang dipendekkan, yaitu shalat fardhu yang 4 (empat) rakat (Dzuhur, Ashar dan Isya’) dijadikan 2 (dua) rakaat, masing-masing dilaksanakan tetap pada waktunya. Sebagaimana menjamak shalat, mengqashar shalat hukumnya sunnah. Dan ini merupakan rushah (keringanan) dari Allah SWT bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan tertentu.

 
 
 
 

·        Adapun syarat syah shalah Qashar sama dengan shalat Jamak, hanya ditambah :

1.      Shalatnya yang 4 (empat) rakaat

2.      Tidak makmum kepada orang yang shalat sempurna

3.      Harus memahami cara melakukan

4.      Masih dalam perjalanan, bila sudah sampai dirumah harus dikerjakan sempurna walaupun tetap jamak.

·        Perhatikan Hadist Nabi SAW :

 

Rasulullah SAW tidak bepergian, melainkan mengerjakan shalat dua raka’at saja sehingga beliau kembali dari perjalanannya dan bahwasanya beliau telah bermukim di Mekkah di masa Fathul Mekkah selama delapan belas malam, beliau mengerjakan shalat dengan para Jama’ah dua raka’at kecuali shalat Maghrib. Kemudian bersabda Rasulullah SAW: ”Wahai penduduk mekkah, bershalatlah kamu sekalian dua raka’at lagi, kami adalah orang – orang yang dalam perjalanan.” (HR. Abu Daud)

 

·        Sedangkan cara melaksanakan shalat Qashar adalah :

1.      Niat shalat qashar ketika takbiratul ihram.

2.             Mengerjakan shalat yang empat rakaat dilaksanakan dua rakaat kemudian salam

·        Firman Allah SWT

 

”Bila kamu mengadakan perjalanan dimuka bumi, tidaklah kamu berdosa jika kamu memendekkan shalat...” (QS. An-Nisa: 101)

·        Nabi SAW bersabda:

 

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata: ”Shalat itu difardhukan atau diwajibkan atas lidah Nabimu didalam hadlar (mukim) empat rakaat, didalam safar (perjalanan) dua rakaat dan didalam khauf (keadaan takut/perang) satu rakaat.” (HR. Muslim)

 

·        Sementara shalat jamak Qashar adalah:

Mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu dan meringkas rakaatnya yang semula empat rakaat menjadi dua rakaat.

·        Perhatikan Hadist dari Ibnu Umar berikut ini:

 

”Pernah Rasulullah SAW menjamak Qashar shalat Maghrib dengan shalat Isya’, beliau laksanakan Maghrib tiga rakat dan Isya’ dua rakaat dengan satu kali iqomah.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Shalat Jamak Qashar dapat pula dilaksanakan secara taqdim dan ta’khir. Jika hendak melakukan Jamak Qashar, umpamanya kita mengumpulkan Ashar dengan Dzuhur yakni kita tarik shalat Ashar kedalam shalat Dzuhur maka hendaklah kita sesudah Adzan dan Iqomah mengerjakan shalat Dzuhur dua rakaat, setelah selesai Dzuhur iqomah lagi, setelah itu mengerjakan shalat Ashar dua rakaat.

            Saudaraku sesama muslim, bahwa diperbolehkannya seseorang melakukan shalat Jamak, Qashar, maupun Jamak Qashar, merupakan rushah atau keringanan dari Allah SWT. Maksudnya agar manusia itu tidak meninggalkan shalat fardhu walau dalam keadaan bagaimanapun. Sesungguhnya Allah SWT tidak menghendaki kesukaran pada hamba-hamba-Nya.

·        Sesuai Firman-Nya:

 

Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...”(QS. Al-Baqarah: 185)

Setelah kita mengetahui seseorang (musafir) boleh mengerjakan shalat Jamak, Qashar bahkan shalat Jamak Qashar sekaligus setelah memenuhi persyaratan tersebut diatas, lantas bagaimana lafazh niat shalat-shalat tersebut?

·        Berikut ini lafazh niat shalat Qashar dengan Jamak :

1.      Shalat Dzuhur Jama’ Taqdim:

 

”Aku niat shalat fardhu Dzuhur dua rakaat qashar dengan jama’ sama Ashar karena Allah” Allahu Akbar.

2.      Shalat Ashar Jama’ Taqdim

 

”Aku niat shalat fardhu Ashar dua rakaat qashar karena Allah.” Allahu Akbar

 
 


 
 

           3.      Shalat Dzuhur jama’ ta’khir

 

”Aku niat shalat fardhu Dzuhur dua rakaat qashar karena Allah.” Allahu Akbar

4.      Shalat Ashar jama’ ta’khir

 

”Aku niat shalat fardhu Ashar dua rakaat qashar karena Allah.” Allahu Akbar.

5.      Shalat Maghrib jama’ taqdim

 

”Aku niat shalat Maghrib tiga rakaat jama’ sama Isya’ fardhu karena Allah.” Allahu Akbar.

6.      Shalat Isya’ jama taqdim

 

”Aku niat shalat Isya dua rakaat qashar fardhu karena Allah.” Allahu Akbar.

7.      Shalat Maghrib jama’ ta’khir

 

”Aku niat shalat Maghrib tiga rakaat fardhu karena Allah.” Allahu Akbar.

 

8.      Shalat Isya jama’ ta’khir



”Aku niat shalat Isya dua rakat qashar fardhu karena Allah.” Allahu Akbar

·        Akhir dari materi ini ingin saya menyampaikan sebuah Hadist setentang Dzikir dengan mengeraskan suara selesai mengerjakan shalat fardhu yang terdapat didalam kitab Terjemah Hadist Shahih Buchari dengan penterjemah H. Zainuddin Hamidy Dkk pada halaman 220 sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas r.a. : Sesungguhnya mengeraskan suara membaca dzikir sehabis mengerjakan sembahyang fardhu, dilakukan orang di zaman Nabi SAW. Seterusnya kata Ibnu Abbas r.a. : ”Aku tahu bahwa setelah orang selesai mengerjakan sembahyang, saya dengar begitu.” (HR. Bukhari)

                  Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Sebelum saya sudahi dakwah saya (lewat tulisan) kali ini, perkenankan saya mengutarakan kegembiraan hati saya sekaligus mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak KH Musa Wahid (pimpinan umum Yayasan Pendidikan Islam ANNAAFI’AH) Beliau juga sebagai Ketua Umum Masjid Jami’ Hasbullah, Otista III Keb. Nanas Selatan Jakarta Timur yang telah berkenan mengoreksi dan menyempurnakan tulisan (artikel) religius ini berjudul tersebut diatas pada halaman 2, 4, 5 dan halaman 6. Terima kasih pak Kyai.

 

 Akhir kata semoga artikel religius ini bermanfaat, terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwaminkum Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

 

 

∙ ∙ ∙

* (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku Oleh: Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Kalijaga Jogyakarta dan buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap Oleh : Drs. Moh. Rifa’i dan Kitab Terjemah Hadist Shahih Buchari)*
Last Updated on Friday, 21 May 2010 04:10
 
Template
Template Template Template
 

Pesan


Shoutbox
Template Template