HAMBA SAHAYA YANG BERIMAN LEBIH BAIK DARIPADA LELAKI MUSYRIK, SEKALIPUN IA MENARIK HATIMU

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Segala puja dan puji milik Allah SWT, tiada sekutu bagi-Nya dan hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan hanya kepada Allah SWT kita memohon pertolongan serta hanya kepada-Nya kita memohon ampunan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para sahabatnya.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Allah SWT berfirman : ( Artinya ) : ” Jangan nikah dengan perempuan- perempuan musyrik (kafir), sehingga mereka beriman, sesungguhnya hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun ia menarik hatimu ( karena kecantikannya ). Janganlah kamu nikahkan perempuan muslimah dengan laki- laki musyrik sehingga ia beriman. Sesungguhnya hamba sahaya yang beriman. Lebih baik daripada lelaki musyrik, sekalipun ia menarik hatimu. ” ( QS : Al Baqarah : 221 ) .
Sebab turun ayat ini adalah kejadian atas diri Murtsad Al Ghanawi yang diutus Nabi ke Mekkah untuk mengeluarkan orang – orang Islam yang hidup tertindas sesudah hijrahnya Nabi ke Madinah. Di Mekkah Murtsad berjumpa dengan seorang perempuan menarik, hartawan, lagi cantik yang menyerahkan diri kepada Murtsad supaya dijadikan istri. Peristiwa ini disampaikan kepada Rasul, maka turunlah ayat tersebut :( Artinya ) : “… Dan dihalalkan mengawini ) wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin kepada mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik… “( QS : Al Maidah : 5 ) .
Dari ayat 221 surat Al Baqarah, tegas dinyatakan hukum yang ditujukan kepada umum, baik laki-laki maupun Islam, dilarang nikah dengan perempuan dan laki-laki musyrik. Sedangkan hukum yang terdapat pada ayat 5 surat Al Maidah khusus ditujukan kepada laki-laki Islam boleh mengawini perempuan ahli kitab.
Ibnu Abbas pernah ditanya tentang hal pria muslim nikah dengan wanita ahli kitab, beliau menjawab tidak halal. Kemudian memembaca ayat 29 Surat At Taubah.
Selain itu ada juga yang berpendapat makruh menikah dengan ahli kitab, lantaran adanya rasa tidak aman yang datangnya dan istri yang berlainan agama. Periksa Fikih Ala Madzahibil Arba’ah, juz 1V.( hal 77 ).
Dalam hal ini, Imam Asy Syafi’i dalam Al Um juz V halaman 7 menjelaskan : ( Artinya ) : ” Telah mengkhabarkan kepada kami Abdul Majid dari Juraji bahwa Atho’ telah berkata : Orang-orang Nashrani dari bangsa Arab itu tidak termasuk ahli kitab. Yang disebut ahli kitab ialah Bani Israil yang pernah kedatangan Taurat dan Injil. Adapun ( selain dari Bani Israil ) yang masuk agama mereka tidak termasuk Ahli Kitab. ” ( Imam Asy Syafi’i dalam Al Jum juz V hal 7 ) .
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku :FIQIH. Oleh : Drs H. Moch Syafi’i dan Drs Rs Abd Aziz *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan :Www.hajisunaryo.com.*
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website :Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.