GHIBAH

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad.Tanpa disadari banyak orang-orang yang berpuasa senang dan larut membicarakan apa – apa yang ada pada saudaranya yang tidak disukai olehnya. Ini adalah ghibah yang telah dijelaskan Nabi SAW ketika beliau bersabda kepada para Sahabatnya , ( Artinya ) : ” Tahukah kalian apakah ghibah itu ? ” Para Sahabat berkata : ” Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”
Beliau bersabda : ” Engkau menyebut-nyebut apa – apa pada saudaramu yang yang tidak ia sukai. ” Para Sahabat bertanya : ” Wahai Rasulullah , apa pendapat engkau jika padanya apa – apa yang aku katakan? ” Beliau menjawab : ” Jika padanya apa – apa yang engkau katakan, maka engkau telah menggibahnya. Sedangkan jika padanya tidak ada apa – apa yang engkau katakan, maka engkau telah membuat kebohongan terhadapnya. “( HR : Muslim ) .
Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah ghibah termasuk dosa besar yang tidak bisa dihapuskan dengan shalat atau dengan sedekah atau dengan puasa atau dengan lain-lainnya berupa amal shaleh. Terlebih lagi bagi orang yang puasa, ghibah dapat merusak pahala puasa. Akan tetapi dia akan tetap berada dalam timbangan.
Ibnu Abdul Qawi Rahimahullah berkata dalam sebuah nazham ( adalah puisi yang berasal dari Parsi ) tentang adab.
Telah dikatakan tentang ghibah dan adu domba keduanya dosa besar menurut tulisan Ahmad. Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, telah menulis bahwa ghibah dan adu domba adalah diantara dosa-dosa besar. Ungkapan Nabi SAW ketika mendefinisikan ghibah adalah : ” Engkau menyebut – nyebut apa – apa pada saudaramu yang ia tidak sukai ” , mencakup apa – apa yang ia tidak sukai berupa cacat phisik, misalnya jika anda lakukan ghibah bahwa dia pincang, atau bermata satu atau tinggi atau pendek dan lain sebagainya, yang demikian adalah ghibah. Atau cacat akhlak ( moral ) sebagaimana jika anda sebutkan bahwa dia bukan orang baik-baik, yakni suka mengejar – ngejar, melihat wanita lain, melihat bujang muda, dan aib lain. Atau aib keagamaan, misalnya anda mengatakan bahwa ia adalah orang yang melakukan bid’ah atau ia tidak shalat berjamaah atau ia tidak melakukan demikian – demikian. Anda menghinanya dengan ketiadaannya dan karenanya dinamakan ghibah karena dilakukan ketika ketiadaan seseorang. Sedangkan jika hal itu anda lakukan dihadapannya, maka dinamakan mencaci dan tidak dinamakan ghibah ( mengumpat ).
Rasulullah SAW bersabda , ( Artinya ) : ” Ketika aku dibawa Mi’raj aku berlalu pada suatu kaum yang memiliki kuku dari kuningan yang dengannya mereka mencakar muka dan dada mereka sendiri. Maka aku bertanya :” Siapa mereka itu ,wahai Jibril ? “. Ia menjawab : ” Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia yang lain ( karena ghibah ) dan menodai kehormatan mereka. ” ( HR : Abu Daud ) .
Allah SWT berfirman : ” Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. ” ( QS : Al – Hujurat : 12 ).
Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : ” 89 Kesalahan Seputar Puasa Ramadhan .” Oleh : Abdurrahman Al-Mukaffi *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan : Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website :Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.