CARA BERPUASA DIDAERAH KUTUB

Assalamualaikum wr wb
Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Pertama-tama saya mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Maunah-Nya lah saya dapat menyusun artikel religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para sahabatnya.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Setentang berpuasa, ada beberapa masalah dalam ibadah berpuasa. Antara lain cara berpuasa didaerah Kutub.
Allah SWT berfirman : ( Artinya ) : ” Dan makanlah kamu dan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam ( waktu berbuka ). ” ( QS :Al-Baqarah :187 ) .
Firman Allah ( titah Allah ) tersebut diatas kepada hamba-Nya didasarkan kepada kebiasaan yang berlaku dalam keadaan wajar karena itu untuk penduduk daerah Kutub yang siangnya panjang, atau yang malamnya panjang, maka untuk penduduk didaerah Kutub, hendaknya berbuka puasa menurut ( mengikuti ) jam-jam didaerah yang sederhana keadaannya yakni mengikuti jam-jam didaerah yang terdekat kepadanya. Hal ini dilakukan dengan hisab. Dalam pada itu Nabi SAW menerangkan juga hukumnya bagi keadaannya yang tidak biasa itu.
Diriwayatkan oleh Muslim dari Yunus bin Syam’an dalam satu Hadist yang berkenaan dengan dajjal, kami berkata : ” Maka hari ketika itu sama setahun. Apakah cukup bagi kami shalat sehari ? ” Nabi SAW menjawab : ” Tidak. Jangkakanlah waktu-waktu itu “.
Dan ada pula beberapa Hadist yang semakna dengan ini.
Hadist Muslim walaupun mengenai shalat, namun dapat ditanggapi daripadanya bahwa ada Ibadah ibadah yang didasarkan kepada peredaran bulan.
Syara’ memerintahkan kepada kita bershalat sesudah gelincir matahari ,dan berpuasa sesudah melihat bulan, juga berhaji diwaktu – waktunya, adalah berdasarkan keadaan biasa ( berlaku didaerah biasa ) dan supaya dia menjadi tanda-tanda yang menunjukkan kepada waktu yang nyata.
Pendapat sebagian ulama yang menetapkan tak ada shalat Isya dan shalat witir, juga pendapat yang menyatakan tak ada puasa bagi penduduk di daerah Kutub yang malamnya terus-menerus karena tidak tampak matahari, yakni fajarnya terbit sebelum syafaq ( yakni sebelum matahari terbenam ), adalah suatu kekeliruan sebagai yang telah ditegaskanoleh para ahli tahyqiq.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : FIQIH. Untuk Madrasah Aliyah. Oleh :Drs H. Moch Rifa’i dan Drs Rs Abd Aziz *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan :Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website : Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.