BERDO’A UNTUK DIRI SENDIRI DAN BERDO’A UNTUK ORANG LAIN

Saudaraku sesama muslim.
Seperti judul artikel religius saya, tersebut diatas bahwa kali ini dakwah saya (lewat tulisan) adalah setentang Berdo’a dan Mendo’akan. Saya jadi teringat belasan tahun yang lalu di kampung saya, ada keluarga kaya yang sudah terlanjur menjadi buah bibir orang sekampung. Pasalnya  keluarga kaya ini, katakan saja keluarga pak Jaya namanya, yang terkenal dengan prinsip hidup bahwa berdo’a itu tidak penting. Tetapi otak, kedisiplinan dan kerja keras itu yang penting. Pada kenyataannya disiplin dan kerja keras yang diterapkan pak Jaya dalam keluarganya memang membuat anak-anaknya menjadi orang-orang yang sukses. Lihat saja putra sulungnya menjadi seorang Dokter, putrinya yang kedua menjadi Insinyur, putri bungsu pak Jaya seorang Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Indonesia, sementara cucu pak Jaya bernama Putri berusia lima tahun, seorang gadis cilik masih duduk di TK kelas Nol besar berotak brilliant, bayangkan usianya baru lima tahun sudah hafal nama-nama Presiden sedunia dan hafal ibukota Negara-negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika. Sayangnya prinsip yang dipegang pak Jaya, istri juga anak-anaknya itu sama sekali tidak agamis. Katanya: “Kami menganggap do’a itu tidak penting dan kami tidak pernah berdo’a nyatanya kami kaya, kami sukses.” Astagfirullahaladzim! Sebuah ungkapan yang keliru bernada sombong mendekati takabur. Tetapi Allah SWT Maha Kuasa, kepada hambanya yang dikasihi  Dia berbuat sekehendaknya. Pada suatu ketika sigadis cilik, cucu pak Jaya jatuh sakit, Ayah sigadis yang seorang Dokter itu sudah mengobatinya, tetapi tidak sembuh, dibawanya ke dokter umum lain, juga tidak sembuh. Bahkan pak Jaya sudah membawa putri kepada dokter spesialis anak, namun penyakit cucu kesayangan tidak kunjung sembuh. Pak Jaya panik, orang-orang seisi rumah bingung, sakit gadis cilik semakin parah, malah keadaannya nyaris kritis. Disaat genting seperti itu, tiba-tiba pak Jaya duduk bersimpuh diatas lantai dekat pembaringan dimana Putri sedang terbaring lemah. Pak Jaya mangangkat kedua tangannya, berdo’a.
Orang tua yang tidak pernah berdo’a ini, kini dengan pasrah dan dengan khusuk berdo’a, memohon kepada Al-Khaliq yang Maha Penyembuh yaitu Allah SWT, memohon agar cucu kesayangannya disembuhkan dari penyakit yang dideritanya. Sebagai insan beriman, kita yakin haqul yakin, ada keajaiban didunia ini. Do’a pak Jaya diijabah dan Allah SWT berkenan mengabulkan do’a orang tua ini. Disaksikan oleh seluruh keluarga tiba-tiba sigadis cilik membuka kedua matanya, wajah serta bibir yang pucat perlahan berubah menjadi kemerahan, kedua tangan dan kakinya yang tadinya seperti lumpuh sekarang dapat digerak-gerakkan. Berbareng dengan itu bibir Putri terbuka dan dengan suara lantang memanggil kakeknya : “Mbah Kakung….!” Pak Jaya terkesima, air mata yang sejak tadi sudah meleleh di kedua pipi orang tua ini dengan cepat dihapusnya dengan kedua tangannya. Pak Jaya menghampiri pembaringan seraya berkata: “Cucuku sudah sembuh….., cucuku sudah sembuh!”. Saudaraku, sejak peristiwa itu prinsip lama keluarga pak Jaya hapus dan berobah total. Kini pak Jaya sekeluarga suka dan senang berdo’a, berdo’a untuk diri sendiri dan berdo’a untuk orang lain. Menarik cerita ini bukan? Baiklah Saudaraku, kita mulai dengan pembahasan materi kita. Berdo’a adalah kebutuhan kita sebagai manusia, dengan berdo’a hidup kita (manusia) akan selalu mengarah kepada kebaikan. Do’a juga dapat mengurangi atau menghilangkan sifat-sifat sombong dan takabur.  Dengan membiasakan diri berdzikir dan berdo’a setiap hari, insya Allah akan muncul budi pekerti yang luhur seperti berhati lembut, shaleh, percaya diri, rendah hati dan bertenggang rasa didalam diri kita.      Berdo’a dapat dilakukan oleh seseorang, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Artinya, selain berdo’a untuk kepentingan diri sendiri, seseorang boleh berdo’a untuk kepentingan orang lain. Berdo’a untuk kepentingan sendiri ini disebut berdo’a untuk diri sendiri.
·         Do’a untuk diri sendiri antara lain :
  1. Do’a sesudah berwudhu
  2. Do’a agar mendapat ilmu yang bermanfaat
  3. Do’a masuk dan keluar masjid.
Adapun lafadz do’a – do’a tersebut sebagai berikut:
  1. Do’a sesudah berwudhu.
 “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan Rasul-Nya. ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah pula aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri.”
  1. Do’a memperoleh ilmu yang bermanfaat.
 “ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.”
  1. Do’a masuk masjid.
 “ya Allah, ampunilah dosa-dosa ku dan bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”
  1. Do’a keluar masjid.
“Dengan nama Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta anugerah kepada-Mu. Ya Allah, bentengilah diriku dari gangguan syetan yang terkutuk.”
·         Berdo’a untuk orang lain :
1.      Do’a untuk ibu bapak.
“ya Allah ampunilah dosaku dan dosa ibu bapakku dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangi dan mengasuhku pada waktu aku masih kecil.”
2.      Do’a untuk orang sakit.
 “ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, karena engkaulah Dzat yang maha penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali dengan kesembuhan-Mu, suatu kesembuhan yang tidak akan kembali.”
Atau dengan do’a :
 “Aku mohon kepada Allah yang  Maha Agung, semoga Allah menyembuhkanmu.”
3.      Do’a untuk kaum muslim dan muslimat.
 “ya Allah, ampunilah dosa orang-orang yang beriman dan orang-orang islam laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”      
Demikian contoh do’a (berdo’a) untuk orang lain, tentu saja masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Saudaraku, sampai disini saya sudahi dulu tulisan (artikel) religius ini, saya berharap nilai-nilai islam dengan dukungan sidang pembaca kian akan tersebarkan penyampaiannya sebagai sarana syiar dakwah. Terima kasih atas segala perhatian, wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku. Oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.)

Last Updated on Tuesday, 08 December 2009 19:00

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.