BAGAIMANA BERIMAN YANG SEMPURNA KEPADA RASULULLAH SAW?

Saudaraku, didalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Kahfi, diceritakan bahwa Nabi Musa As bertemu dengan Nabi Khaidir As dan bermaksud menuntut ilmu kepadanya. Ketika Nabi Musa As menyampaikan itu, Nabi Khaidir As berkata:

“Kamu tidak akan sanggup ikut dengan aku, kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup dan karenanya kamu tidak bisa tahan dan tidak akan sabar bersamaku.”
“Insya Allah aku akan sabar, engkau boleh lihat nanti,” Jawab Nabi Musa AS, lalu katanya lagi:” Dan aku tidak akan menentang ataupun membantahmu.”
“Baiklah, Kau boleh ikut denganku, Tapi ingat, Jangan tanyakan apapun sampai aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.”
Kata Nabi Khaidir As memberi syarat dan Nabi Musa As pun menyetujuinya.
            Shahday, maka mereka pun berjalan hingga mereka tiba ditepi laut kemudian mereka naik perahu. Saudaraku, tahukah antum(pembaca) apa yang dilakukan Nabi Khaidir? Isya Allah! Dia melubangi perahu itu! Tentu saja Nabi Musa menjadi terperanjat dan langsung berkata:
“Hai apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melubangi perahu ini? Bukankah itu bisa mencelakakan penumpangnya?!.”
“Sudah kukatakan, kamu tidak akan sabar ikut bersama aku.” Kata Nabi Khaidir As.”
“Oh ya, aku lupa. Maafkanlah aku.” kata Nabi Musa As.
 Kemudian mereka melihat sebuah dinding rumah yang hampir roboh. Nabi Khaidir tanpa disuruh segera menegakkan dinding itu sehingga dinding rumah tersebut menjadi kokoh kembali. Tentu saja Nabi Musa pun menjadi merasa gatal untuk tidak berkomentar dan komentarnya:
“Wah, kamu bisa lho, untuk meminta upah atas pekerjaan itu.”
Mendengar perkataan Nabi Musa ini, dengan tenang penuh wibawa Nabi Kahaidir As berkata: “Kita memang harus berpisah karena ternyata kamu tidak dapat memenuhi persyaratan yang sudah kita berdua sepakati.” Sekarang dengarkanlah baik-baik mengapa aku melakukan semua itu? Perahu yang aku lubangi itu adalah milik orang-orang miskin (para Nelayan). Sengaja aku melubanginya, sebab didepan sana ada kapal bajak laut yang siap merampoknya. Adapun anak kecil itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukminin. Sementara anak itu cenderung berbuat jahat. Aku khawatir ia akan menyeret mereka kepada kekafiran, makanya ia aku bunuh dengan harapan Allah SWT menggantinya dengan anak yang Shaleh. Kemudian dinding rumah itu aku sengaja menegakkannya karena dibawahnya ada harta simpanan milik dua orang anak yatim.
            Mereka pun berjalan lagi, sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Dan pembaca, Tahukah anda apa yang dilakukan Nabi Khaidir As tehadap anak itu? Astagfirullahaladzim! Dia membunuh anak laki-laki itu! Melihat ini, spontan Nabi Musa As memprotes. Tetapi Nabi Khaidir hanya menjawab : “Bukankah sudah kukatakan bahwa kamu tidak akan sabar ikut bersama aku.”
            Sekali lagi Nabi Musa meminta maaf karena terlanjur tanpa sadar telah melanggar perjanjian (persyaratan mereka berdua dan dengan suara sungguh-sungguh berkata:
“Jika setelah ini aku masih saja bertanya atau berkomentar tentang sesuatu, maka tinggalkan saja aku.”
Kemudian mereka pun meneruskan perjalanannya lagi, hingga sampailah mereka disuatu tempat (desa). Karena mereka lapar, mereka meminta sesuatu untuk sekedar mengganjal perut, tetapi tidak ada seorangpun penduduk desa yang memberi dengan begitu, mereka bisa mengambilnya kelak setelah mereka dewasa.”
            Saudaraku, itulah sepenggal kisah tentang Nabi dan Rasul yang diceritakan di dalam kitab suci Al-Qur’an. Yaitu kisah Nabi Musa As dan Nabi Khaidir As. Saudaraku, siding pembaca yang budiman, Antum ingin mengetahui setentang Nabi dan rasul bukan? Pembahasan Al-Fahri sebagai dakwah lewat tulisan kali ini seperti judul (artikel ini) tersebut diatas memang setentang pengertian Iman kepada nabi dan Rasul, wabil khusus Bagaimana beriman yang sempurna kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling agung, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.? Semoga dakwah lewat tulisan ini dapat menjadi penawar dan menjadi sebagai tambahan ilmu bagi sidang pembaca Semoga!
Normal 0 MicrosoftInternetExplorer4 st1:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”;}
Secara bahasa, kata Nabi berasal dari kata na – ba yang artinya ditinggikan atau dari kata ma – ba –  a yang artinya berita (wahyu). Adapun menurut istilah, Nabi adalah manusia biasa, laki-laki yang dipilih oleh Allah SWT untuk menerima wahyu, tetapi ia (Nabi) tidak diperintah untuk menyampaikannya. Sedangkan kata Rasul berasal dari kata ar – sa – la yang artinya mengutus. Setelah dibentuk menjadi rasul, berarti orang yang diutus menyampaikan berita. Adapun rasul sebagaimana yang dimaksud dalam pembicaraan (pembahasan) kita ini adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu, dan diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan misi risalah).
Para Ulama menjelaskan pengertian Nabi dan Rasul sebagia berikut :
“Rasul adalah seorang laki-laki merdeka (bukan budak) yang diberi wahyu oleh Allah SWT berupa syariat dan ia (Rasul) diperintahkan untuk menyampaikan risalah (syariat tersebut) kepada semua makhluk. Adapun jika tidak diperintah menyampaikan risalah, maka ia disebut Nabi.
            Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa setiap Rasul itu pasti juga seorang Nabi, tetapi tidak setiap Nabi itu menjadi Rasul. Nabi dan Rasul sebagi manusia biasa juga hidup seperti kebanyakan manusia, yaitu makan dan minum, tidur, berjalan-jalan, menikah dan berketurunan kemudian mempunyai anak, merasa sakit, senang, sedih, kuat, lemah, mati dan lain-lagi sifat-sifat manusiawi pada umumnya. Oh ya Saudaraku, Nabi dan Rasul semuanya terdiri atas laki-laki, tidak seorangpun Nabi dan Rasul dari jenis perempuan. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan:
Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka….” (QS. Al-Anbiya: 7)
            Dan sidang pembaca yang budiman, iman tidak sekedar kepercayaan didalam hati, tetapi harus dinyatakan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Iman adalah akidah yang memenuhi hati dan memecahkan pengaruh seperti munculnya sinar matahari dan munculnya semerbak bau wangi dari bunga melati. Iman tidak akan sempurna kecuali dengan citna yang hakiki, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul-Nya dan cinta kepada syariat yang diwahyukan.
·        Rasulullah SAW bersabda:
Yang artinya: “ Salah seorang diantara kalian tidak dianggap sempurna imannya sehingga saya lebih dicintai daripada bapaknya, anaknya, dirinya yang terdapat diantara kedua hubungannya dan semua orang.” (Al-Hadist)
·        Sahabat Umar Ibnu Khattab pernah datang kepada Rasulullah SAW dan berkata:
“Engkau lebih kucintai daripada segala sesuatu kecuali diriku.” Rasulullah SAW bersabda: “Tidak hai Umar, sehingga aku lebih dicintai olehmu daripada dirimu sendiri.” Sahabat Umar Ibnu Khattab berkata: “ Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Rasulullah SAW bersabda: “ Sekarang iman mu telah sempurna.: (Al-Hadist).
Dari gambaran (ilustrasi) Hadist tersebut diatas, kita ketahui bahwa baru sempurna iman seseorang itu apabila Rasulullah SAW lebih dicintai dari dirinya sendiri, istri (suami) nya, anak-anaknya, bapaknya bahkan ibu kandungnya sendiri dan dari segala sesuatu yang terdapaat diantara kedua hubungannya dan semua orang.
Sementara didalam arti kata yang luas, iman kepada Rasul itu berarti mempercayai dan menyakini bahwa Allah SWT telah mengutus para Nabi dan Rasul kemuka bumi ini seabgai utusan_Nya, kemudian diucapkan dengan lisan serta dibuktikan dengan melaksanakan ajaran-ajarannya.
Kemudian wujud dari iman seseorang kepada Rasul antara lain sebagai berikut:
1.      Mentaati ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul, yaitu dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang.
2.      Keinginan-keinginan hidupnya selalu disesuaikan dengan ajaran yang dibawa Rasul.
3.      Tidak membeda-beda antara Rasul yang satu dengan yang lainnya, yakni mempercayai bahwa semua Rasul itu benar-benar utusan Allah SWT.
4.      Malu berbuat jahat dan maksiat,
Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Jumlah Nabi dan Rasul yang diutus Allah kemuka bumi ini cukup banyak. Menurut para ulama, jumlah Rasul itu seluruhnya ada 313 (tiga ratus tiga belas) orang dan Jumlah Nabi ada 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) orang.
Namun, yang patut diketahui dan pasti adalah bahwa Allah SWT mengutus seorang Rasul dimuka bumi ini kepada setiap umat.

·        Perhatikan Firman Allah SWT yang termaktub didalam kitab suci Al-Qur’an berikut ini:

“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24)
·        Kemudian Firman Allah SWT:
“Tiap-tiap umat mempunyai Rasul ……” (QS. Yunnus:47)
Akhirnya ajaran agama mewajibkan kita (umat) untuk mengetahui dan mengimani jumlah Nabi dan sekaligus Rasul itu sebanyak 25 (dua puluh lima) orang saja seperti berikut:
* Nabi Adam As, Idris As, Nuh As, Hud As, Shaleh As, Ibrahim As, Luth As, Ismail As, Ishaq As, Ya’Qub As, Yunus As, Ayyub As, Syu’aib As, Musa As, Harun As, Zulkifli As, Daud As, Sulaiman As, Ilyas As, Ilyasa As, Yunus As,  Zakaria As, Yahya As, Isa As, dan Nabi Muhammad SAW.*
***
(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Islam Agamaku. Oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN SUNAN KALIJAGA JOGJAKARTA. Edisi 2003 Penerbit: Cempaka Putih, Laweya, Solo.)

 

This entry was posted in Rasulullah. Bookmark the permalink.